Perbedaan Asuransi Syariah dan Asuransi Konvensional

Asuransi Jiwa Syariah

Pernakah terpikirkan bahwa sewaktu-waktu bisa saja terjadi hal yang tidak diinginkan? Seperti orang kebanyakan, aku juga bukan orang yang membayangkan hal tersebut. Tak pernah sekalipun membayangkan adanya kejadian tak terduga seperti kebakaran, kecelakaan, dan lain sebagainya yang membuat kehilangan nyawa. Padahal, jelas bahwa kehilangan nyawa secara mendadak bukanlah hal yang mustahil. Bahkan, berita mengenai berbagai peristiwa mengenaskan sering muncul di surat kabar.

Lantas kenapa perlu membahas mengenai kehilangan nyawa secara tak terduga atau musibah tak terduga lainnya? Karena ternyata dampak dari kejadian seperti ini kadang sangat membahayakan kelangsungan hidup yang baik. Contohnya saja, misalnya seorang kepala keluarga tiba-tiba meninggal karena kecelakaan lalu lintas. Ia masih memiliki anak-anak yang bersekolah. Lantas tak ada yang menjamin biaya sekolah anak-anak tersebut setelah meninggalnya sang ayah.

Anak-anak tersebut bisa putus sekolah. Bisa saja tidak putus sekolah namun sang ibu dan anak-anak tersebut harus berupaya dengan sangat keras. Kehidupan mereka bisa menjadi sangat sulit. Hal ini akan berbeda jika telah memiliki asuransi sebelumnya. Ketika terjadi kecelakaan, perusahaan asuransi akan memberikan bantuan. 

Apalagi jika terjadi kehilangan nyawa. Maka keluarga akan menerima uang dari perusahaan asuransi. Diharapkan cukup untuk anak-anak melanjutkan pendidikan. Kemudian cukup juga untuk biaya kehidupan dan aman. Pentingnya asuransi jiwa sekarang semakin dilirik masyarakat. 

Sebagai negara yang mayoritas berpenduduk muslim, asuransi syariah pun kini telah tersedia.  Seperti di Perusahaan Asuransi Prudential Indonesia. Masyarakat bisa memilih aransi konvesional atau asuransi syariah. Jika ingin memilih asuransi dari dua jenis ini tentu baiknya mengetahui terlebih dahulu apa perbedaannya. Kemudian bisa memilih ikut asuransi yang sesuai dengan keinginan.

Ada beberapa perbedaan asuransi jiwa syariah dan konvensional. Perbedaan tersebut dimulai dari perbedaan status nasabah dan perusahaan asuransi. Kemudian perbedaan akad. Adanya perbedaan status dana. Juga perbedaan dalam pengelolaan dana.

Asuransi dengan prinsip syariah adalah usaha saling tolong menolong dan melindungi antara para peserta melalui pembentukan kumpulan dana yang disebut Dana Tabarru. Pada asuransi jiwa syariah hubungan antara nasabah dan perusahaan adalah sebagai pemberi kuasa  (muwakil) dan penerima kuasa (wakil). Perusahaan asuransi berperan sebagai pengelola dana tabarru dan berhak menerima upah.

Pada asuransi syariah, nasabah adalah sekumpulan peserta setuju untuk saling membantu dalam menaggung resiko dengan menghibahkan sejumlah kontribusi atau premi untuk membentuk dana tabarru atau dana tolong menolong. Jika terjadi resiko pada peserta, uang petanggungan akan dibayarkan dari dana tabarru. Kontrak utama adalah kontrak tabarrru yaitu sekumpulan  orang setuju menghibahkan uang untuk saling bantu dalam menanggung resiko.

Dalam asuransi syariah ada beberapa akad jual beli: wakalah bil ujrah, mudarabah dan mudarabah musytarakah. Wakalah bil ujrah adalah pemberian upah kepada perusahaan sebagai pengelola dana.

Mudarabah, bagi hasil dimana 100% dana peserta. Mudarabah musytarakah diaman perusahaan  juga menyertakan modal. Ketiga ini adalah pilihan yang tidak harus ada semua pada akad jual beli.

Dalam asuransi syariah, dana yang terkumpul menjadi milik kolektif peserta. Perusahaan memiliki kuasa untuk mengelola dana tersebut dan berhak menjdapat upah. Pada asuransi syariah surplus menjadi hak kolektif peserta dan diperlakukan sesuai kesepakatan yang diawasi dewan syariah nasional. Investasi bebas selama dalam batas perundang-undangan yang berlaku dan tidak bertentangan dengan syariah islam. Contoh, perbankan, rokok, dan riba. Semua ini diawasi OJK dan dewan syariah

Dalam asuransi syariah ada beberapa transaksi yang harus dihindari. Yang pertama adalah gharar. Gharar adalah kondisi ketidakpastian yang tidak diperbolehkan jika terjadi pada kontrak komersial atau jual beli. Misalnya, kesepakatan jual beli atas surat pertanggungan yang tidak bisa dipastikan waktu penyerahannya.

Kemudian yang kedua, riba. Riba merupakan tambahan yang timbul dari transaksi hutang atau jual beli yang tidak memenuhi ketentuan syariah. Contohnya, transaksi jual beli uang yang tidak sama kuantitasnya anatara uang yang dibayar sebagai premi dan uang pertanggungan yang dijanjikan.

Yang ketiga adalah maysir. Maysir merupakan transaksi yang mengakibatkan keuntungan di satu pihak dan merugikan di pihak lain. Contohnya, bila tidak terjadi klaim selama masa kontrak, pihak asuransi yang diuntungkan. Sebaliknya, jika terjadi klaim, pihak asuransi yang dirugikan.

Pada asuransi konvensional, hubungan antara nasabah dan perusahaan asuransi adalah sebagai tertanggung dan penanggung. Nasabah membayarkan sejumlah premi, bila terjadi resiko atas nasabah, perusahaan akan memberikan sejumlah uang sebagai tanggungan. Kontrak adalah kontrak jual beli dimana tertanggung membayarkan sejumlah uang kepada penanggung untuk memberikan penggantian kepadanya karena kerugian akibat resiko yang dijamin.

Dalam asuransi konvensional, seluruh dana premi yang terkumpul menjadi milik perusahaan. Keseluruhan surplus menjadi milik perusahaan. Asuransi konvensional bebas investasi selama dalam batas ketentuan perundangan-undangan investasi Indonesia. Asuransi konvensional diawasi oleh OJK.

1 Response to "Perbedaan Asuransi Syariah dan Asuransi Konvensional"

  1. Baru tau lho aku ada asuransi syariah juga. Makasih sharingnyaaaa

    ReplyDelete

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel