Tragedi 6 November

Hari ini, 6 November, tepat satu tahun yang lalu sebuah kejadian tak disangka-sangka menghampiri keluarga kami. Pagi itu, sekitar jam dua malam, aku terbangun mendengar suara ayahku yang mempersipakan untuk dagangan ibu. Ya, memang biasanya beliau bangun dini hari, tapi tak secepat itu biasanya. Ayah dan ibu menyetel alarm harian tepat jam tiga pagi. Hari itu beliau lebih cepat. Hatiku merasakan aura kelelahan dan kerja keras beliau. Aku bangun, bangkit dari tempat tidur, kemudian membuka pintu kamarku. Aku menuju kamar kecil, hendak mengambil wudhu. ku berniat tahajud malam itu. Dari kamar mandi ku dengar suara kesibukan ayah. "Duhai ayah begitu berat perjuanganmu," gumamku dalam hati.

Selesai sholat tahajud, aku tak tidur, aku membuka laptop melihat perkembangan blogku. Aku kemudian mulai menulis beberapa tulisan baru. Belakangan aku mulai nyaman dengan aktivitas menulis di blog. Dini hari adalah saat yang baik untuk cari ide. Menulis di pagi hari terasa lebih lancar. Sebenarnya memang dari dulu ayah dan ibuku menyarankan kalau belajar itu ya tengah malam. Belajar setelah tahajud pelajaran akan lebih masuk ke otak. Begitupun dengan menulis tulisan untuk blog. Mungkin memang waktu tahajud adalah waktu yang terbaik. Karena itulah mungkin umat islam dihimbau untuk bangun di jam itu.

Ayah adalah salah seorang yang ku kenal tak pernah meninggalkan sholat tahajud. Sejak beliau bujangan. Beliau bercerita beliau mengusahakan tak pernah meninggalkan tahajud. Beliau yakin bahwa tahajud adalah sholat yang sangat penting untuk kebaikan beliau dunia dan akhirat. Beliau memang memiliki kestabilan sifat dan sikap. Beliau selalu ceria walau apapun keadaan. Beliau senantiasa mampu bersabar apapun masalah yang beliau hadapi. Beliau selalu memaafkan kesalahan orang meskipun apapun yang orang lakukan terhadap beliau. Beliau selalu semangat menjalani hidup apapun yang terjadi. Mungkin tak pernah tinggal tahajud adalah salah satu rahasianya.

Memasuki waktu subuh, aku sudah mulai lelah menatap layar laptop. Begitu azan, aku langsung meninggalkan laptop. Aku ke kamar kecil lagi mengambil wudhu. Ku lihat ibu sudah bangun. Seperti biasa ibu di jam subuh sudah siap dengan bumbu-bumbu yang diperuntukan untuk dagangannya. Ibu juga sudah sholat tahajud. Bahkan kelihatannya beliau sudah mandi, beliau kelihatan segar. Aku kemudian sholat, setelah itu aku ke dapur. Pada waktu itu ayah sedang sholat subuh. Ibu memintaku menyiapkan bekal untuk ayah bawa ke sekolah. Aku pun segera menyiapkannya.

Sudah selesai semua yang kupersiapkan. Aku meletakkan bekal itu di atas meja makan. Pas sekali ayah keluar kamar dan langsung duduk di meja makan. Aku berkata pada ayah, "Ini bekalnyo, yah." Ayah diam saja. Ia bahkan tak melirik sama sekali. Ia hanya menunduk konsentrasi sekali memasang kaos kaki. Biasanya ia menyahut. Aku diam saja. Aku melanjutkan pekerjaan membereskan dapur yang memang sangat butuh dibereskan. KArena ibu berdagang, jadi kerja di rumah kami jadi jauh lebih banyak. Aku harus bergegas. 

Aku tiba-tiba sadar handphoneku tinggal di kamar. Aku tak ingin jauh dari handphone. Siapa tahu calon suamiku mengirinkan pesan. Aku bersegera mengambil handphone ke kamar. Lalu kembali lagi ke dapur. Begitu sampai di dapur, ayah tak kelihatan. Ibu keluar dari kamar. Aku langsung bertanya, "Mano ayah, buk?" Ibu bilang ayah sudah pergi. Aku merasa sedikit janggal. Tak biasanya ayah pergi tanpa berpamitan. Ayah biasanya selalu pamit. Setidaknya mengatakan, "Ayah pegi." Tapi ini pergi dalam hening. Aneh sekali. Aku berkata dengan ibu, "Ayah ndak cepat yo buk.". Ibu kemudian menjelaskan bahwa hari itu ayah ada supervisi. Jadi ayah berangkat lebih cepat. Ayah memang sangat mencintai profesinya.

Bagi ayah, menjadi guru adalah suatu kebahagiaan. Bagaimana tidak, selain memiliki profesi, juga sekaligus ibadah. "Kan amal jariyah," kata ayah. Ayah sering mengatakan itu. Ayah juga sering mengatakan, "Kasian anak-anak." Ayah sangat menyayangi murid-muridnya. Ayah juga sering berkata, "Mari kita membangun desa." Ayah suka sekali menyebut dirinya pak guru desa. Iya, ayah mengajar di desa. Sekolah tempat beliau bertugas adalah sebuah sekolah di atas gunung. Jalannya belum bisa dikatakan bagus. Ia sering bercerita para guru rawan terjatuh dalam perjalanan menuju sekolah. Ada jalan yang merupakan tebing lumayan berbahaya. Beliau pun beberapa hari sebelumnya ada terjatuh di jalan menuju sekolah itu. Tapi seperti biasa, beliau tak mau mengeluh. 

Ya Allah berkahilah ayahku..aamiin

Beliau selalu bilang, bahwa mengeluh adalah tanda bahwa kita menentang Tuhan. Seolah kita tak menerima apa yang sedang Tuhan ujikan kepada kita. Lalu kita mengeluh. Mengeluh adalah suatu hal yang snagat tidak baik. Aku memang mungkin tak pernah sama sekali mendengar beliau mengeluh. Beliau benar-benar sosok yang luar biasa. Beliau selalu sabar, selalu ceria, apa pun yang terjadi pada beliau. Hanya saja beberapa waktu terakhir beliau agak aneh. Contohnya, beliau sering sekali minta dimasakkan masakan seperti ibunya dulu memasak untuk beliau. Sedari aku kecil, aku tak pernah sekalipun mendengar beliau meminta dimasakkan khusus seperti itu.

Aku duduk di kursi makan. Aku sudah membuat teh manis untuk menyantap kue pagi. Aku memang suka menikmati pagi dengan cara seperti itu. Kemudian kakakku datang. Beliau menggendong anaknya. Kami bercerita tentang kepenulisan. Seperti biasa aku banyak bertanya kepada kakakku tentang hal-hal yang aku belum tahu. Lalu beliau menjelaskannya padaku. Kami berbincang seru sekali. Tiba-tiba, kakak mendapat telpon. 

"Astagfirullahalazim," ucapnya. Aku diam menyimak. "Iyo buk," katanya lagi. Lalu menutup telpon. Aku langsung bertanya. "Siapo yuk?" 

"Ibuk. Kato ibuk ayah kecelakaan. Ibuk dapat telpon dari polisi." Hatiku merasakan desiran yang aneh. 

Kakakku me;anjutkan, "Ibuk nyuruh tobo ardi langsung menuju tempat kecelakaannyo. Tobo ardi dak ado yang abwak hape pulo. Kelak pas tobo tuh balik langsung kito suruh ke tempat kecelakaan ayah tu."

Adik-adikku pulang dari mengantar ibu ke lokasi ibu berdagang. Begitu mereka turun dari mobil, aku langsung meberitakan kepada mereka. Mereka pun bersiap. Mereka ke kamar dahulu mengambil handphone mereka masing-masing. Plus powerbank. Mereka langsung berangkat. Kami kemudian melanjutkan makan kue pagi sambil bercerita. 

Handphone kakakku berbunyi lagi. 

"Iyo buk. Iyo ayuk siapkan."

Ayuk mematikan telponnya. Aku bertanya lagi, "ngapo yuk?"

"Kato polisi tobo Ardi diminta langsung ke rumah sakit. Polisi la menuju ke rumah sakit. Ayuk telpon Ardi dulu."

Setelah menelpon Ardi, kakakku juga mengatakan bahwa ibu minta siapkan beberapa berkas ayah, seperti fotocopy KTP, BPJS, dan lain sebagainya. Kakakku langsung bergegas. Aku melanjutkan menikmati pagi. Namun keanehan mulai terasa. Aku merasa suatu hal yang aneh sedang meliputi diriku. Aku lalu berdiri dan berniat untuk melanjutkan beres-beres rumah saja. Aku menuju ke ruang keluarga. Tiba-tiba handphokeku berdering. Ku lihat di layar itu nama adik bungsuku, Daurez. Aku langsung angkat.

"Halo, ngapo dau?"

"Ngah,,," ia menangis terisak terdengar dari ujung telpon.

"Ayah ninggal, ngah....." ia menangis terisak isak, aku diam sejenak, lalu berucap, "innalillahiwainnailaihirojiun." Tepat kuucapkan itu kakakku keluar dari kamarnya menatapku, lalu tersungkur. "innalillahiwainnailairojiun." Kakakku menangis lalu langsung ditenangkan suaminya. 

"Ngah,,,, tolong siapkan kasur untuk ayah, siapkan rumah, kabarkan tetangga-tetangga," kata adikku sambil terbata bata dan menangis.

Aku mengiyakan pesannya, ia pun mengakhiri telpon. AKu langsung masuk kamar. Ku tutup pindu dan aku diam sejenak. Lalu aku keluar kamar lagi dan menyiapkan segala sesuatunya begitupun dengan kakakku yang menyiapkan segala sesuatu. Tetangga-tetangga mulai berdatangan membantu. Suasana terasa sangat aneh. Aku memberitahukan kabar duka di grup whatsap. Keluarga mulai berdatangan. Dalam waktu singkat rumah kami menjadi sangat ramai. Tenda sudah berdiri tegak. Tak tahu siapa yang mendirikan. Mungkin tetangga atau pengurus masjid. Lalu semuanya sudah siap, disusul dengan suara ambulans menatar ayah ke rumah. Ibu masuk ke rumah terlebih dahulu sambil mennagis histeris. 

Aku menyambut ibu, memeluknya yang mengusap rambutnya. Ia duduk dan aku tetap disampingnya. Orang-orang membawa ayah ke dalan rumah. Aku tak berani menatapnya. Aku hanya fokus pada ibuku. Aku kemudian berusaha membaca Al Quran di dekat ayah, namun ada saja pekerjaan yang harus ku kerjakan. Karena banyak yang harus dipersiapkan. Ayah harus segera dikebumikan. Kemudian ayah dimandikan, dikafani, dengan saudara-saudara ayah. Aku hanya ikut proses memandikan. Itupun aku tak sanggu lama menatapnya. Aku hanya melihat bahwa tubunya sangat sehat. Nyaris tak ada luka sedikitpun. Hanya ada goresan kecil di telapak tangannya. 

Ayah mengalami benturan keras di kepala. Luka yang beliau alami adalah luka dalam di bagian kepala. Kabar yang kami dapat ayah menabrak mobil angkutan desa yang melintang di tengah jalan. Banyak warga yang menjadi saksi kejadian itu karena kebetulan ayah kecelakaan di depan rumah yang sedang mengalami musibah. Rumah itu sedang ramai. Jadi kejadian ayah ini banyak yang melihat. Berdasarkan kabar dari warga, mobil angkutan itu langsung kabur. Setelah menabrak badan mobil, ayah terguling di jalan aspal, terhenti tepat di bawah roda sebuah truk. Ayah melekat di sana. Yang mengeluarkan adalah polisi. Begitu dikeluarkan dari bawah truk. Banyak yang mendokumentasikan.

Dokumentasi itu cepat menyebar. Karena itulah cepat sekali rumah kami ramai. Banyak teman-teman maupun keluarga yang dapat kabar dari berita yang beredar. Foto ayah tersebar di fb. dan gurp grup whatsap orang. Banhkan video beliau di lokasi kecelakaan pun tersebar. Aku beberapa kali diceritakan adanya foto-toto dan video yang beredar itu. Beberapa keluarga menyimpannya. Tapi aku tak melihatnya sama sekali. Aku tak mau melihatnya. Aku tak sanggup melihat foto dan video ayah dalam keadaan seperti itu. 

Ayah kemudian disholatkan. Ardi yang menjadi imamnya. Beberapa bulan sebelum kejadian ini. Ayah pernah berkata, "Di.. Kamu bisa sholat jenazah? Hafal kamu bacaan sholat jenazah? Kalau ayah ninggal, kamu yang jadi imamnyo. Jangan orang lain. Biasonyo memang cak itu. Anaknyo yang jadi iman. Kalo dak bisa baru orang lain."

Adikku menyambut dengan sedikit bercanda, "La ngapo yah? Entah ambo yang duluan ninggal."

Aku juga menyahut, "Entah ambo yang duluan ninggal. Ninggalkan idak tentu berdasarkan umur. Banyak orang yang lebih mudo ninggal duluan. Entah pas keluar dari rumah ni ambo kecelakaan trus langsung mati."

Ibu juga ada di ruangan itu, " Enath aku duluan mati. Ngapo pulo ayah ni. Ado ado bae."

Ayah diam saja menanggapi perkataan kami pada waktu itu. Ardi, adikku pun berlalu. Aku, Ibu, dan ayah waktu itu sedang kerja menyiapkan dagangan di sore hari di dapur. Ardi lewat dan menuju kamarnya. Setelah percakapan itu kami diam saja. Ayah pun diam saja. 

Tak menyangka, akhirnya kejadian ini terjadi. Ardi pun menjadi imam. Ia mengimami sholat sambil menangis. Ayah kemudian dikebumikan. Ardi ketika ada kesempatan berbicara padaku, ia berkata, "Inga ingat ayah pernah nyuruh ambo ngapalkan bacaan sholat jenazah?" Aku menjawab, "Iyo, ingat nian." Ia berkata lagi, "Cak itu dak,, nyatonyo.."

Berarti memang sudah menjadi ketetapan Allah semua ini terjadi. Memang umur sudah ditentukan sejak manusia itu dalam kandungan. Ajal itu, tak bisa diminta penundaan walau sedetik. Tak bisa pula minta dimajukan walau sedetik. Ajal itu sudah ketetapan mutlak. Semoga ayah mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah. Aamiin Ya Rabbal Alamin.

semoga ayah bahagia

2 Responses to "Tragedi 6 November"

  1. Duh, roaming bahasanya :)
    Tapi lumayan paham, nebak-nebak.

    Cinta untuk ayah. Semoga beliau mendapat tempat terbaik.
    Aamiin.

    ReplyDelete
  2. Innalillahi wa innalillahi roji'uun
    Turut berduka cita ya mb

    Semoga Alm ayahanda mendapat tempat terbaik di sisiNya. Aamiin

    ReplyDelete

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel