Cerita tentang Kakek

kisah

Hari itu sangat panas. Aku, kakak, dan kakek berangkat menuju kebun kopi milik kakek. Kami baru saja pindah ke desa kakek. Kini mungkin akan memulai pula kehidupan sebagai petani kopi seperti kakek. Aku dan kakak berjalan sangat pelan. Kakek dengan sabar menunggu langkah kecil kami. Sepanjang perjalanan kami tak banyak berbicara. Berbicara hanya akan menghabiskan tenaga. Kebun kakek lumayan jauh dari desa. Sejujurnya aku sudah sangat letih. Mungkin karena belum terbiasa. Aku pun kemudian bertanya pada kakek, "Masih jauh lagi ya, kek, kebunnya?"

Tak ku sangka kakek langsung tertawa, "Hahahahhahaha... Iya lah masih jauh lagi.. Sekitar satu jam lagi. " 

"HA? APA?" aku dan kakak langsung berteriak kaget. Kakek pun semakin kencang tertawanya. 

Aku menjadi tambah lemas. Kemudian aku duduk di tepi jalan. Jalan itu jalan yang luas seperti jalan raya biasa. Tapi hanya hamparan bebatuan kerikil. Bukan aspal. Bukan pula tanah. Kebun kakek sebenarnya bisa dijangkau dengan kendaraan. Tapi kami tak punya. Kami dan kebanyakan petani di sini memang berjalan kaki saja untuk pulang pergi ke kebun. Ada beberapa petani yang sudah memiliki kendaraan pribadi. Ada yang ke kebun dengan sepeda motor. Ada juga yang bahkan dengan mobil. Tapi sangat jarang yang seperti ini. Ini tipikal petani kaya di desa kakek. 

Aku memandangi sekitarku. Di sebelah kiri adalah kebun kopi. Di sebelah kanan adalah kebun jagung. Jauh ke depan terlihat jalan yang panjang. Kemudian ada sebuah gunung yang besar. Kata kakek ada juga orang yang berkebun di atas gunung. Aku heran bagaimana bisa orang memiliki sebuah gunung. Aku penasaran seperti apa sistem pembagian hak tanah pada zaman dahulu. Kemudian ku lihat kakek dan kakakku pun berhenti berjalan. Kakakku juga tampak sangat letih. Kakakku juga duduk menepi di pinggir jalan. Kakek masih berdiri. Tak ada orang lain yang terlihat. Hanya kami bertiga saja.

Kakek lalu menepi juga. Tapi tak duduk seperti kami. Kakek berjalan ke arah kebun kopi di sebelah kami. Perlahan tapi pasti. Kakek masuk ke kebun itu. Aku dan kakak pun berlari menuju ke arah kakek. Takut ditinggalkan. Kakek lalu bilang, "Ini kebun kakek. Kita sudah sampai."

"Haduh.... untung sudah sampai.. heheheee" aku kegirangan. 

Kakek terus berjalan. Tak lama kemudian tampak sebuah pondok kecil. Ukurannya 3x3 meter. Pondok itu terbuat dari bambu. Atapnya seng. Pondok kakek tak begitu tinggi. Mirip seperti rumah biasa. Pondok ini digunakan sebagai tempat beristirahat. Kalau kerja di kebun, siangnya makan di pondok. Juga digunakan sebagai tempat bermalam jika musim panen tiba. Kata kakek nginap di kebun itu seru. Suasana alam menyejukkan jiwa. Suara-suara hewan-hewan seperti burung-burung, jangkrik, plus suara nyamuk membuat rasa tentram hati. Udara di kebun juga sangat sejuk. Aroma asli alam yang asri. Makan di kebun  akan  lebih nikmat. Walaupun dengan nasi dan lauk yang sama persis ketika di desa.

Lalu kakek mulai bekerja. Kali ini menyiangi rumput yang ada di sekitar pondok. Kata kakek, kami  juga boleh membantu. Kami mengambil arit yang ada di pondok. Lalu ikut membantu kakek menyiangi rumput. Seru juga membersihkan lingkungan tanaman dan lingkungan pondok dari rumput. Lingkungannya jadi bersih. Aroma tanahnya tercium segar. Rumput yang sudah diarit kemudian dikumpulkan di suatu titik. Kata kakek nanti akan dibakar. Sekalian buat usir nyamuk juga. Merawat kebun memang dengan kerja keras. Selain menyiangi rumput dengan cara seperti ini, juga bisa dengan cara meracun rumput. Begitu setiap hari.

Kakek bercerita, kakek suka juga mengambil madu jika ketemu sarang madu. Kakek lalu meninggalkan kami. Kami tak boleh ikut. Lama kami menunggu. Begitu tiba, kakek sudah membawa madu di tangannya. "Ini madu asli, benar-benar asli." Kakek mempersilahkan kami memakan madu dari sarang yang kakek ambil. Melihat kami kesulitan, kakek lalu mengambil gelas dan memerahnya untuk kami. Dan.... "Yak..." Aku ga suka... agak asam. Nyatanya rasa madu yang dihasilkan ditentukan dari apa yang dimakan lebah. Ga tahu ini lebah makannya apa. Rasa madunya asam. Tapi memang terasa segar. Berbeda dengan madu yang sudah dalam kemasan dan dijual di toko-toko.

Kemudian kakek mengajak kami ke suatu tempat. Ternyata pinggiran kebun kakek. Perbatasan dengan kebun tetangga. Sebagai batas kebun, kakek menanam pohon pinang. Saat itu buah pinangnya banyak yang masak dan berjatuhan. Kakek mengajak kami mengambil buah pinang yang masak. "Coba cicip." Kata kakek. Aku memakan buah pinang masak yang ku ambil. Rasanya enak, manis. Aku suka rasanya. Unik juga kehidupan di perkebunan pikirku. Kita bisa menanam apa pun yang kita suka. Seperti di kebun kakek. Selain kopi kakek juga menanam buah pinang, manggis, dan pisang.

Kata ibu, kakek memang sangat rajin. Kakek adalah perantau sejak kecil. Beliau adalah salah satu dari warga kampungnya yang melakukan perpindahan besar-besaran. Dulu kakek tinggal di kampung yang jauh dari desa tempat tinggal kakek sekarang. Suatu hari kampung itu di serang banyak harimau. Setiap orang yang terlihat dengan harimau pasti mati mengenaskan. Usut punya usut ternyata ada salah satu warga kampung yang mengambil bayi harimau untuk dijual. Orang itu tak tahu kemana. Karena terlalu banyak korban dan harimau tak henti menyerang kampung. Warga kampung memutuskan untuk pindah sejauh-jauhnya dari kampung itu.

Kakek berdua dengan kakaknya adalah yatim piatu. Kakek dan kakaknya ikut warga melakukan pindahan masal itu. Sampailah di desa yang sekarang mereka tinggali. Kakek membuka hutan sendirian. Kakek membuka hutan sangat luas. Kemudian kakek tanami dengan  beraneka ragam tanaman. Ada yang kakek tanami kopi. Ada yang khusus ditanami jagung. Ada yang khusus ditanami cabai. Ada yang khusus ditanami kacang. Kakek juga menanam merica, manggis, pisang, pinang, dan pohon kayu manis. Kakek juga memelihara banyak ayam. Kakek sangat rajin melakukan semua itu sendirian. Selain rajin, kakek juga sangat tangguh mengerjakan semua itu.

Tapi pembagian rezeki kadang memiliki arah yang berbeda. Ada orang yang memiliki kebun yang tidak begitu luas. Namun hasil panennya melimpah. Satu pohon kopi menghasilkan buah yang begitu lebat. Hingga sebidang kebun kopi saja sudah bisa membuat pemilik kebun tersebut kaya. Sedangkan kakek memiliki area kebun yang sangat luas. Namun hasilnya biasa saja. Jadi kakek tak menjadi petani yang kaya raya dengan area perkebunannya yang sangat luas. Semua telah ada catatan rezeki masing-masing dari Allah. Kehidupan ini terbukti bukan manusia yang atur. Tapi semua kembali pada kehendak Allah. 

Untuk mencukupi kebutuhan keluarga, kakek juga sering memancing ikan di sungai. Kakek bahkan terkenal dengan ahli memancing. Setiap memancing, kakek pasti dapat ikan. Ikan itu cukup untuk lauk keluarga. Ini adalah rezeki yang besar. Rezeki protein dan rezeki sayur mayur selalu terpenuhi. Aku sempat berpikir pula, kalau ahli memancing kenapa tak jualan ikan dan jadi juragan ikan. Kembali lagi pada akhirnya bahwa catatan rezeki itu Allah yang atur. Semua memiliki jatah rezeki masing-masing. Ada yang memiliki rezeki menjadi juragan ikan. Ada pula yang memiliki rezeki ikan namun tak memiliki rezeki menjadi seorang juragan ikan.

Tapi bukankah kehiduan di desa begitu menentramkan. Udara desa yang sejuk. Suasana yang asri.  Setiap hari bekerja ke kebun. Kebun sendiri. Mau makan ada lauk pauk. Makan siang di pondok dengan lahap. Makan hasil jerih payah sendiri. Makan madu yang asli dan segar. Makan buah-buahan yang enak dan segar. Sesekali mandi di sungai yang jernih. Setiap malam bisa tidur dengan lelap. Kehidupan berjalan terus dengan nyaman. Hari-hari berlalu dengan tenang.

0 Response to "Cerita tentang Kakek"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel