Kebersamaan dengan Ayah

cerita tentang ayah

Sewaktu aku masih kecil, ayah sering sekali mengajakku dan kakak bermain bersama. Kalau di rumah biasanya main ayunan, main injit-injit semut, main tebak kata, menyusun lego, lomba membentuk karakter dari bayangan lampu, dan main gelitikan. Kalau di luar rumah, kami main kejar-kejaran. Sesekali main kejar-kejarannya di pantai. Sesekali ayah juga mengajak main di arena permainan anak. Ayah mengajak kami bermain mobil atau bermain permainan lainnya yang ada di area permainan anak tersebut. Kadang juga main ke tempat wisata lain seperti taman marga satwa. Biasanya ayah juga membelikan kami makanan kecil. Lalu kalau ada tukang foto lewat, beliau akan meminta untuk difoto sebagai kenangan. Beliau pernah bercerita bahwa dulu sewaktu bujangan beliau suka fotografi. Btw, seringnya beliau minta foto kami ketika kami sedang tak sadar kalau kami difoto.

Setelah sekolah kami sering belajar bersama ayah. Ayah mengajarkan nyanyi lagu-lagu daerah, nyanyi lagu-lagu nasional, nyanyi lagu-lagu bahasa Inggris, nyanyi lagu-lagu tentang sekolah, dan belajar berhitung. Ayah pula orang pertama yang mengajarkan aku perkalian dalam matematika. Ketika pertama kali aku mendapat tugas menghafal perkalian dari guru di sekolah, ayah yang membantuku menghafalkannya. Mulai dari membantu menyebutkan perkalian. Kemudian memberitahu tips-tips cepat mengahafalnya. Menemaniku menghafalkan semua perkalian. Juga menyemangatiku jika aku telah lelah. Memotivasiku untuk terus berusaha. Sampai akhirnya aku benar-benar bisa menghafalkannya dengan sempurna. Ayah selalu ada di sampingku. Begitu aku selesai menghadap guru menyetorkan hafalanku, aku pun pertama kali bercerita di rumah pada ayah. Ayah bersorak girang mengapresiasiku.

Begitu pula dalam menghafalkan surah-surah pendek dalam Al Quran. Ayah juga yang mengajariku. Beliau tak pernah lelah mendampingiku. Walau mungkin sesungguhnya ayah dalam keadaan lelah. Beliau tak pernah menunjukkannya. Wajahnya selalu ceria dan bersemangat. Sampai aku hafal surah-surah pendek dalam Al Quran yang telah ditargetkan, kemudian baru beliau beristirahat. Tentang perihal pelajaran agama, beliau tak pernah berceramah. Beliau membelikan buku-buku pelajaran agama yang bergambar. Aku pun suka membacanya. Kalau aku tak mengerti tentang sesuatu, barulah aku bertanya kepada ayah. Lalu ayah menjelaskan kepadaku sampai aku paham. Dalam keseharian, kalau beliau melihat aku melakukan hal yang salah, beliau akan langsung menegurku.

Masa taman kanak-kanak, aku tinggal di rumah ayah beliau. Di depan rumah kakek, ada sebuah taman kanak-kanak. Aku sekolah di TK depan rumah kakek. Sekalian juga tinggal di rumah kakek. Kata ayah, aku akan dijemput seminggu sekali. Setiap sabtu sore ketika ayah sudah pulang dari mengajar. Maka sabtu sore menjadi hari favoritku. Aku senang sekali di setiap hari sabtu. Begitu pulang sekolah aku langsung bersiap-siap menunggu ayah. Ketika hari sudah mulai sore, aku mulai menengok ke luar pagar rumah kakek. Melihat-lihat siapa tahu ayah sudah datang menjemput ku. Sore hari ku habiskan dengan hanya menunggu di halaman depan rumah kakek.

Begitu terdengar suara motor ayah, aku langsung kegirangan. Aku mengambil barang-barang yang aku mau bawa pulang ke rumah. Lalu berpamitan dengan kakek nenek. Aku mendekat pada ayah. Kami bersegera berangkat pulang. Sepanjang jalan itu aku bercerita tentang apa-apa saja yang terjadi di sekolah. Aku suka bercerita dengan ayah. Ayah adalah pendengar yang baik. Beliau selalu tampak bersemangat mendengar cerita-ceritaku. Walaupun ceritaku hanyalah hal-hal sepele. Aku bukan tipikal peserta didik yang berprestasi. Aku tak bercerita tentang akademik. Aku hanya bercerita tentang permainan anak-anak dan tentang teman-temanku. Namun ayah tetap bersemangat. 

Jarak antara rumah kakek dan rumah kami sangat jauh. Ayah juga mengendarai motor dengan kecepatan sedang. Jikalau ceritaku sudah habis, aku hanya diam menikmati semilir angin. Melihat keadaan sekeliling. Melihat keindahan alam. Melihat kegiatan orang-orang. Jika ada yang aku tak mengerti aku langsung bertanya pada ayah. Beliau kemudian menjelaskannya untukku sampai aku paham. Lalu aku diam lagi menikmati semilir angin. Memandangi keindahan sore yang menyejukkan. Kemudian kami sampai di rumah dengan hati riang. Aku rindu sekali dengan suasana rumah yang hanya aku dapatkan seminggu sekali. Senin pagi aku akan diantar ke sekolah dengan ayah lagi.

Begitulah aku di masa TK. Kemudian aku lanjut mendaftar sekolah SD di dekat rumah. Mendaftar ke sekolah itu aku datang bersama ayah. Kami datang pagi sekali. Sekolah masih sepi. Tapi sudah ada seorang guru dan ada kepala sekolah juga. Mereka berdua menyambut kami. Kata mereka aku akan dites. Aku masuk ke ruangan guru sendiri. Ayah diminta mereka untuk menunggu di teras ruang guru. Di sana disediakan kursi tunggu. Aku dites pertanyaan tentang angka, warna, dan huruf-huruf. Syukurnya aku bisa menjawab semua dengan lancar. Aku pun diterima di sekolah itu. Ayah kemudian diminta masuk dan mengisi beberapa formulir. Setelah itu kami pulang.

Aku senang sekolah di sana. Guru-gurunya baik. Hasil belajarku juga baik. Ayah menjanjikan jika aku dan kakak sama-sama juara satu, maka ayah akan belikan kami sepeda. Aku menjadi sangat bersemangat. Kakak pun juga begitu. Kami bersegera menambah intensitas kami belajar. Kami juga saling menyemangati. Setiap hari kami belajar dengan rajin. Hingga akhirnya di hari pembagian rapor, aku dan kakak benar sama-sama juara satu. Kami sangat riang. Ayah pun menepati janjinya. Beliau langsung membelikan kami sepeda. Sepedanya ukuran sedang untuk kami. Tapi pada waktu itu kami belum bisa bersepeda sama sekali. Kemudian ayah berjanji akan mengajari kami untuk bisa bersepeda.

Di masa liburan sekolah, kami belajar bersepeda. Ayah mengajari kami bergantian. Pertama yang diajari adalah kakak. Kakak diminta naik ke atas sepeda oleh ayah. Pada waktu itu dua roda kecil penyeimbang di bagian roda belakang belum ayah lepaskan. Kata ayah agar kami mudah belajar. Setelah kakak mulai lancar, baru aku yang diajari ayah. Sampai kami berdua kelihatan lancar, ayah melepaskan dua roda kecil itu. Ayah bilang, "Sekarang roda kecilnya sudah dibuang. Ayo belajar lagi." Aku malah jadi takut. Tiba-tiba sepeda itu kelihatan tinggi besar bagiku. Aku mempersilahkan kakak yang belajar duluan. Kakak pun belajar. Ayah mengatakan pada kakak untuk terus mengayuh. Ayah memegangi sepeda itu. Kakak mengayuh sepeda sambil ayah berlari.

Lalu tiba-tiba sepeda itu beliau lepas. Kakak tampak bisa melanjutkan mengayuh sendirian. Ia terus melaju. Namun hanya sebentar saja lalu kehilangan keseimbangan. Kemudian kakak jatuh dan terluka. Kakinya berdarah. Kata ayah, "Hal ini biasa kalau belajar bersepeda. Kalian jangan menyerah. Jatuh, bangkit lagi. Nanti akhirnya bisa." Kakak mengerti yang dikatakan ayah adalah benar adanya. Tapi pelajaran hari itu dicukupkan. Kami pun pulang. Keesokan harinya tak ku sangka kakak masih sangat bersemangat untuk belajar. Ia terus belajar. Seperti kata ayah, "Jatuh, bangkit lagi." Begitulah kakak. Seharian ia berusaha. Akhirnya ia bisa. Ia bisa bersepeda dengan lancar. Ia pun sangat senang. Ia mulai berkeliling dengan sepeda itu.

Beberapa hari aku belum mau belajar bersepeda. Aku takut jatuh. Kakak menyemangatiku, "Pasti bisa. Kalau jatuh, bangkit lagi. Coba terus sampai bisa." Aku mengangguk-angguk sambil berpikir bagaimana caranya bisa bersepeda tanpa jatuh. Kemudian aku bilang pada ayah kalau aku mau belajar sendiri, "Ayah, aku nanti belajar bersepedanya sendiri aja. Kan dekat rumah ada lapangan. Aku nanti ke sana belajar sepeda." Ayah memperbolehkan. Aku lalu belajar bersepeda beberapa hari kemudian. Aku bawa sepeda itu dengan ku dorong menuju lapangan. Sampai lapangan sepeda ku naiki. Lalu ku kayuh perlahan. Ketika hampir jatuh, aku berhenti. Kemudian ku kayuh lagi perlahan, ketika nyaris lagi terjatuh, aku berhenti. Seperti itu terus. 

Hingga aku dapati aku telah menguasai sepeda itu. Aku coba mengayuh lebih lama dan memang tak terjatuh. Aku berkeliling lapangan beberapa putaran. Ketika lelah, aku berisitirahat. Aku akhirnya bisa. Aku lega sekali. Aku sejak hari itu jadi hobi bersepeda. Setiap pulang sekolah aku langsung mengambil sepeda dan berkeliling daerah sekitar. Biasanya gayaku itu; pulang, lempar tas, ambil topi, isi botol air minum sampai penuh, masukkan botol air minum ke keranjang sepeda, lalu pergi tak tentu arah. Pernah suatu waktu aku pergi kejauhan. Sampai aku sadar bahwa aku mungkin lupa jalan pulang. Aku berhenti bersepeda. Aku duduk berpikir. Ku coba lihat sekeliling aku tetap tak ingat kemana arah rumah. Akhirnya aku putuskan untuk balik arah. Mencari jalan pulang. Lama sekali. Namun akhirnya ketemu jalan pulang. Aku sampai rumah ketika sudah hampir adzan maghrib.

Kenaikan kelas dua, kami harus pindah ke kampung halaman ibu. Aku dan kakak pindah sekolah juga ke sana atas permintaan ibu. Ayah tak ikut pindah. Karena ayah tak bisa meninggalkan pekerjaannya. Kata ayah, ayah sesekali akan pulang ke kampung halaman ibu juga kalau ada waktu libur. Kami pun untuk sementara harus terpisah. Ibu, kakak, aku, dan adik berangkat ke kampung halaman ibu tanpa ayah. Kami akan tinggal di rumah orang tua ibu. Kata ibu dulu nenek kakek pernah berjanji bahwa rumah kakek nenek akan diberikan pada ibu. Ibu bercerita begitulah adat di kampung halamannya. Orang tua biasanya mewariskan rumah untuk anak perempuan. Kebetulan ibu memang anak perempuan satu-satunya. Saudara ibu semuanya laki-laki. Anak laki-laki kakek nenek mendapatkan warisan berupa lahan perkebunan. Jadi masing-masing dapat bagian.

Selama kami tinggal di kampung, kami tak pernah mendapat uang jajan. Kata ibu negara sedang sulit. Kami juga mendengar ada isu krisis moneter. Aku tak begitu paham. Tapi aku pernah dengar lagu nya. Lagu anak-anak yang dibawakan oleh seorang penyanyi cilik. Lagu itu bercerita tentang krisis moneter. Salah satu kalimat dalam lirik lagu itu, "su susah, su su susah, ngga ada yang murah!"  Begitulah kedaaan negara yang sulit berdampak pada uang jajan kami. Ibu kadang menyelipkan cerita tentang kehidupan yang sulit di zaman penjajahan. Juga di awal kemerdekaan saat ada konflik lagi. Pokoknya setiap ada masalah dengan negara, masyarakat kena imbasnya.

Lalu kami paham, memang keadaan sedang sulit. Kami hanya menunggu kabar baik dari ayah. Begitu liburan tiba, ayah pun tiba. Ayah tiba di pukul sembilan malam. Ayah membawa oleh-oleh untuk kami. Ayah membawa beberapa makanan kesukaan kami. Kami pun senang. Ayah juga memberi uang jajan. Kami gembira sekali. Uang jajan pemberian ayah kami belanjakan dengan makanan ringan ke warung. Hari-hari ada ayah selalu terasa menggembirakan. Ayah juga mengajari kami lagu-lagu baru, lagu-lagu daerah, lagu-lagi nasional, dan lagu-lagu belajar bahasa inggris yang belum kami hafalkan. Kami bernyanyi bersama. Ayah juga banyak bercerita tentang kisah-kisah lucu. Saat ayah ada, kami sering tertawa. Tak peduli dengan keadaan negara yang sedang sulit, suasana terasa sangat menggembirakan.

Untungnya lagi, kami hanya terpisah selama tiga tahun saja. Kelas lima SD, aku, ibu, kakak, dan adik kembali ikut ayah. Kami meninggalkan kampung halaman ibu. Kelas lima SD, aku mendaftar ke sekolah dekat ayah mengajar. Ayah mengantarku mendaftar di sekolah yang baru. Alhamdulillah aku diterima setelah dites dengan beberapa pertanyaan. Guru-guru dan kepala sekolah juga melihat raporku yang baik. Mereka bahkan mau memasukkanku ke kelas unggul. Namun ayah tidak memperbolehkan. Ayah tak mau aku mengalami culture shock. Setelah ku jalani, ternyata ayah benar. Di kelas biasa saja aku sudah dapat drama anak pindahan. Ala-ala anak pindahan dari desa masuk ke sekolah ternama di kota. Ga kebayang kalau aku masuknya di kelas unggul. Ga taulah apa yang mungkin terjadi.

Hal termanis dari ayah ketika aku di sekolah ini adalah ketika pertama kali pembagian rapor. Aku tak tahu sebelumnya bahwa setiap anak akan mebawa kue. Tak ada pengumuman sama sekali dari pihak sekolah. Aku duduk termenung di bangkuku dalam keterasingan. Teman-teman sibuk saling memperlihatkan kue masing-masing. Bahkan beberapa memberikan kue kepada guru. Hanya aku seorang yang tak mebawa apa-apa. Parahnya sebelum pembagian rapor memang ada ritual makan kue bersama dulu. Aku hanya duduk menatap ke arah depan dengan tatapan kosong. Sambil sesekali melirik sekeliling yang juga seakan tak peduli pada ku. Rasanya aku mau keluar dan pulang saja. Namun, begitu ku lihat arah pintu, ku dapati kepala ayah menyembul dengan senyum di wajahnya. 

Ayah melambaikan tangan tanda memintaku datang ke arahnya. Ayah pun menyeru dengan suara pelan, "Dek, sini", sambil tersenyum. Aku keluar penuh harap. Ayah berdiri di hadapanku dengan satu tangan disembunyikan di belakang badannya. Aku penasaran. Beliau bilang, "Ayah belikan kamu kue." Sambil beliau tunjukkan sekotak kue yang tadinya beliau sembunyikan di balik badannya. Aku terpana melihat kotak kue itu. Mata ku berkaca-kaca. Ayah menyodorkan kotak kue yang beliau bawa dan mempersilahkan ku melanjutkan  acara di dalam kelas. Ayah lalu pamit pergi kerja lagi. Dalam hatiku sangat berterima kasih padanya. Namun tak sanggup aku berkata. Aku nyaris saja menangis haru. Aku masuk ke dalam kelas. Ku buka kotak kue dari ayah. Ternyata isinya adalah kue-kue mahal yang belum pernah kami beli sebelumnya. Ku cicipi kue-kue itu dengan penuh rasa haru. Rasanya sangat lezat dan hati ku sangat tenang. "Makasih ayah", lirihku.

Tamat SD aku masuk ke SMP tempat ayah mengajar. Tapi aku tak pernah dapat diajar oleh beliau. Ayah mengajar Kewarganegaraan. Aku pengen sekali ayah yang mengajarku mata pelajaran itu. Apalagi ayah memang sering jadi guru favorit. Ayah juga termasuk guru senior yang berprestasi. Sebelum menikah dengan ibu, ayah sudah pernah jadi kepala sekolah di masa bujang nya. Aku penasaran sekali bagaimana diajar ayah. Kakak yang beruntung pernah diajar ayah kewarganegaraan di sekolah. Aku hanya mendapat cerita saja dari kakak. Kata kakak, ayah mengajar dengan bersemangat. Suara ayah mengajar keras. Kalau ayah yang mengajar dijamin ga ngantuk. Ayah mengajar dengan bahasa yang simpel. Tapi materi pelajarannya bisa dimengerti dengan baik oleh peserta didiknya.

Waktu aku kelas dua SMP, ayah menjadi kepala sekolah SMA. Ayah tak mengajar lagi di SMP tempatku bersekolah. Ayah jadi bisa fokus ke sekolah SMA yang beliau bina. Waktu itu ayah terlihat sangat keren. Orang-orang juga jadi banyak datang ke rumah kami. Kebanyakan adalah guru dan wali murid. Guru-guru banyak datang saat ada keperluan. Juga sangat ramai datang di hari lebaran. Wali murid datang di saat menjelang ujian nasional. Wali murid juga kadang datang sebelum ujian kenaikan kelas. Suasana rumah terasa sangat berbeda dari sebelumnya. Pada waktu itu kami juga jadi banyak makanan. Ada banyak oleh-oleh dari tamu-tamu yang datang. Kesemua hal ini tidak ada lagi setelah ayah tidak menjadi kepala sekolah lagi.

Aku SMA di dekat rumah. Sewaktu masa SMA aku tak banyak bercerita pada ayah. Beliau sedang sibuk-sibuknya. Hanya sesekali kalau aku perlu bertanya tentang sesuatu aku bertanya pada ayah. Beliau selalu bersedia menjawab di sela kesibukannya. Masa aku SMA ayah masih terlihat sangat ceria. Meski fisiknya mulai tak bisa menyembunyikan kelelahannya. Ia tampak menua dan sangat lelah. Sampai aku tamat SMA, aku juga tak banyak bercerita pada ayah. Pada masa SMA aku lebih banyak menghabiskan waktu dengan membaca buku. Aku sering pergi ke perpustakaan dan pulang sore sekali. Malamnya aku membaca buku yang ku pinjam dari perpustakaan. Pada masa SMA juga internet sudah mulai marak. Aku mulai bisa mencari jawaban jika bingung terhadap sesuatu, melalu internet.

Tamat SMA aku memiliki libur panjang. Pada waktu ini aku kembali memiliki banyak waktu saling bercerita dengan ayah. Uniknya sejak masa ini, ayah juga mulai sering bercerita. Ayah bercerita tentang banyak hal. Tentang masa mudanya. Tentang masa kecilnya. Tentang pekerjaannya. Tentang teman-teman sesama guru di sekolahnya bertugas. Sampai beliau bercerita tentang keluarganya. Dan lain sebagainya. Pada waktu ini, aku sedikit bercerita. Lebih banyak beliau yang bercerita. Ku dapatkan ternyata dulu beliau pernah bercita-cita menjadi penulis. Saat beliau tak punya teman cerita, beliau akan menuliskan cerita beliau di buku. Ku dapatkan beliau juga sejak bujangan sudah rajin ikut pengajian. Sejak saat itu kata beliau, beliau jauh meningkatkan ibadahnya. Beliau pun berharap semua anak-anaknya juga memiliki ibadah yang baik.

Semester pertama aku kuliah, ada program study tour yang tidak diwajibkan dari prodiku kuliah. Tapi ayah mengizinkanku ikut. Kata ayah, ayah baru dapat uang sertifikasi pertamanya. Ayah adalah angkatan guru kedua yang lulus sertifikasi guru tanpa tes. Ayah termasuk guru generasi awal yang disertifikasi. Ini karena beliau banyak prestasi. Beliau sangat riang. Beliau memberikan aku uang untuk daftar study tour. Itu adalah pertama kalinya aku pergi ke luar dari provinsi ku. Study tour-nya selama satu minggu. Study tour ke tempat wisata ternama nasional. Kami mengunjungi universitas yang ternama pula. Aku bahagia sekali. Aku sangat berterima kasih ayah dan ibu yang mengizinkanku pergi. Aku juga berjanji akan kuliah dengan baik.

Selama aku kuliah, aku banyak berdiskusi dengan ayah. Aku masuk kuliah keguruan. Cocok dengan ayah yang berprofesi sebagai guru. Aku dan ayah sering berdiskusi tentang masalah pendidikan. Tentang bagaimana mengajar yang baik. Bagaimana mengahadapi peserta didik. Bagaimana harusnya mengelola sekolah. Dan masalah pendidikan lainnya. Aku jadi semakin banyak bercerita. Aku pun semakin banyak mendapat cerita tentang ayah. Beliau jadi semakin banyak bercerita. Beliau bercerita tentang pengalamannya. Beliau telah megajar sejak usia delapan belas tahun. Dulu beliau sekolah SPG. Sekolah ikatan dinas guru setara SMA. Pada waktu itu, tamatan SPG langsung mengajar di SD. 

Ayah lalu melanjutkan S1 pendidikan sosial. Setelah lulus S1 ayah mengajar SMA. Ayah juga telah banyak berganti-ganti sekolah. Sudah banyak sekolah yang menjadi tempat pengabdian beliau. Banyak ragam pengalaman yang beliau dapatkan. Ayah bercerita padaku bahwa kalau ngajar SMA, "Jangan sampai kalah ilmu." Karena anak SMA sedang di masa dimana ego dan gengsi mereka tinggi. Kata ayah, "Buatlah mereka salut dengan kita. Mereka nanti baru bisa ikut apa kata kita." Intinya kita memang harus lebih bisa dari peserta didik." Beda dengan SMP, anak SMP umumnya masih sangat penurut." dan ketika ku tanya, "Berdasarkan pengalaman ayah, mana yang lebih nyaman ngajarnya; SD, SMP, apa SMA?" Beliau memilih SMP. Kalau SD tentu sangat sulit. Anak SD masih sangat kecil. Guru SD kudu sabar banget.

Tamat kuliah aku ikut program mengajar ke daerah tertinggal. Awalnya ibu bilang kalau beliau sangat tidak setuju. Namun ayah bilang, "Kalau tekad kamu kuat, kami tidak akan melarang." Pada waktu itu tekadku cukup kuat dikarenkan pikiranku buntu juga di tempat asalku. Tak banyak yang bisa ku lakukan. Pada akhirnya aku berangkat. Selama di derah tugas, aku kadang menelpon ayah. Berdiskusi tentang masalah pendidikan. Ayah selalu mengangkat teleponku. Ayah selalu meluangkan waktu untukku. Ia selalu memberikan informasi yang aku perlukan. Ayah juga selalu mendoakanku. Ia selalu memotivasiku untuk terus bersemangat dan tidak menyerah. Nyatanya ku dapatkan informasi bahwa di tempat beliau mengajar memiliki kondisi yang hampir sama saja dengan sekolah tempatku bertugas di daerah tertinggal.

Banyak yang selama ini beliau tutupi. Hingga akhirnya banyak informasi yang ku dapatkan dari beliau. Sekolah tempat beliau mengajar memiliki medan tempuh yang sulit. Aku memang tidak pernah ikut ke sana. Karena selain memiliki kesibukan masing-masing, lokasi memang jauh, ayah memang tak pernah mengajakku ke sana. Beliau lalu bercerita bahwa bahkan beberapa guru sering jatuh di perjalanan menuju beliau sekolah. "Sekolah kami di atas gunung. Jalannya belum jalan aspal yang bagus. Jalannya masih jalan tanah. Ada batu-batu besar, banyak guru yang sering jatuh di jalanan sulit ini. Makanya guru banyak yang jadi enggan untuk terlalu rajin ke sekolah. Toh gaji PNS pas-pasan. Belum semua sertifikasi juga.

Gaji sertifikasi pun ga lancar. Beberapa bulan baru dikasih secara rapel. Beberapa guru honorer. Ini lebih parah. Honorer gajinya kecil. Tak cukup untuk biaya hidup. Mereka hanya mau menjadi honorer asal dapat pekerjaan saja. Atau asal dapat harapan pada suatu saat bisa diangkat menjadi PNS. Meskipun sekolah sangat sulit dijangkau. Tapi tak digolongkan sebagai sekolah terpencil. Jadi tak dapat tunjangan guru terpencil. Kata ayah, satu sekolah setelah sekolah ayah mengajar, baru digolongkan daerah terpencil. Padahal kondisi beda tipis saja. Parahnya lagi sekolah ayah juga dituntut memiliki proses mengajar yang sama dengan sekolah biasa di kota. Mengajar diminta dengan laptop. Padahal listrik di sekolah sering mati.

Saat usia ayah tak lama lagi akan pensiun, ayah tetap memutuskan untuk mengabdi di sekolahnya meski sulit. Ayah mencintai profesinya. Ayah juga mencintai peserta didiknya. Ayah sering berkata, "Mari kita membangun desa" Ayah juga bangga dengan sebutan "Pak guru desa." Beliau bahkan rela pergi paling pagi dan pulang paling akhir dari sekolah tempat bertugas. Di masa akhir bertugas, ayah banyak meningkatkan ibadah. Di masa akhirnya bertugas, ayah semakin ceria dan riang. Ia selalu bersemangat kalau soal mengajar. Ia optimis terhadap pendidikan. Ia juga sering berkata, "Kita itu harus semangat."

Pulang dari tugas di daerah tertinggal, aku melanjutkan kuliah profesi berasrama. Pada saat itu aku juga mau meningkatkan ibadah. Banyak hal yang baru ku sadari. Banyak hal yang harus ku perbaiki. Di saat itu aku benar-benar ingin menjadi jauh lebih baik. Aku berusaha yang terbaik. Kemudian lulus dengan lancar dan baik. Satu tahun berasrama, aku kurang mendengar kabar dari ayah. Setelah aku pulang ke rumah, aku memutuskan untuk sementara beristirahat. Aku tak bekerja seperti biasanya tamatan kuliah profesi bekerja. Aku malah memilih di rumah. Ada banyak hal yang aku ingin luruskan. Ada banyak hal yang harus aku pertimbangkan. Semakin bertambah usia, pemikiran menjadi semakin rumit. Aku harus juga sangat berhati-hati. Aku masuk di masa transisi. Aku berencana akan menikah. Calon suamiku berasal dari luar provinsi. Ada beberapa benturan yang harus diperbaiki.

Aku di masa ini memiliki banyak waktu luang bersama ayah. Karena aku hanya di rumah. Aku bisa membantu pekerjaan rumah sambil bercerita banyak hal pada ayah. Ayah pun bercerita banyak hal padaku. Oh ya, di rumah kami ada banyak pekerjaan di rumah. Pasalnya ibu ku berjualan. Jadi, di rumah kami pekerjaan hampir 24 jam tak pernah selesai. Ini juga salah satu alasan aku memilih me-rumah dulu. Aku ingin melihat sesuatu. Ternyata, aku mendapatkan informasi besar tak terduga. Nyatanya ayah sedang ditimpa masalah besar. Suatu masalah yang seakan tak akan ada solusinya. Aku pun berpikir keras untuk membantu memecahkan masalah ini. Tetap tak terselesaikan. Masalah ini seperti masalah puncak dari semua masalah yang mungkin pernah beliau hadapi. Aku merasa tak akan sanggup memang jika hanya berpikir sendiri.

Dengan sangat terpaksa, aku melibatkan semua saudara kandungku. Ku pikir kami saudara kandung. Kami harus memecahkan masalah bersama. Namun gagal juga. Masalah ini sangat besar. Masalah yang memang mungkin tak akan ada solusinya. Aku jadi sering menangis sendirian di kamar. Berharap mendapatkan jawaban yang pas. Aku merasa telah berada di ujung tanduk. Aku kasihan pada ayah dan padaku juga. Ayah kemudian mencukur habis rambutnya. Ia biarkan kepalanya botak. Hatiku serasa koyak.  "Maafkan aku ayah. Aku tak mampu menyelesaikan masalahnya." Sejak saat itu aku juga sering mimpi buruk. Aku terus meningkatkan ibadah dan meningkatkan ilmu agama. Aku mencari jawaban masalah dari segala arah. Tetap saja buntu.

Berbulan-bulan aku dan saudara-saudara kandungku mencari jalan keluar dari masalah besar ayah. Tetap buntu. Kami seakan harus pasrah. Ku lihat cahaya wajah ayah telah berubah. Ayah tampak begitu tua dan tampak begitu lelah. Ayah tampak sering bersikap aneh. Aku mulai merasa tak enak. Aku sempat berpikir ini suatu hal yang tidak asing. Seperti suatu pertanda musibah. Namun aku tak meneruskan pikiran buruk itu. Aku tetap mencari-cari jalan keluar tanpa henti. Siang malam ku habiskan waktu untuk benar-benar memeras otak. Hingga suatu hari, ayah mengatakan kalau beliau telah pasrah. Ayah  memilih jalan pasrah sebagai bentuk dari jalan keluar yang beliau harapkan. Ayah lalu memintaku untuk tenang dan berhenti mencari jawaban atas masalah besar itu. Anehnya, ayah di tengah masalah besar yang tak ada jalan keluar itu, justru kini tampak bahagia.

September adalah bulan kelahiran ayah. Aku memperbanyak memberikan ayah kado. Aku memberikan kado sebagai rasa terima kasihku karena beliau telah jadi ayahku. Aku pun mulai dapat uang dari hasil menulis di internet. Nyatanya zaman sekarang, kerja bisa dari rumah. Di rumah saja bukan berarti ga kerja. Aku mulai ada harapan untuk bisa bekerja tanpa harus meninggalkan rumah. Bulan-bulan berikutnya hasil dari internet bertambah. Aku selalu menganggarkan beli kado untuk ayah, meskipun hal kecil. Aku membelikan beliau kaos kaki. Karena ku lihat kaos kaki beliau kurang. Dapat uang lagi ku belikan beliau baju batik. Kebetulan aku lihat ada baju batik yang bagus. Dapat uang lagi ku belikan beliau Al Quran yang bagus. Ku lihat Al Quran di kamar beliau sudah sangat tua. Aku berharap beliau suka dengan Al Quran yang ku berikan. Ternyata beliau memang sangat suka. Beliau bahkan tampak haru.

Beliau penasaran dan bertanya padaku, "Darimana kamu dapat uang?" Aku jawab aku dapat uang dari blog. "Dari blog, yah." Ayah menyambung. "Itulah dak zaman sekarang, uang bisa didapat dari mana saja. Ayah doakan, walaupun kamu tak jadi PNS, kamu bisa berpenghasilan dari blog, bahkan bisa berpenghasilan lebih besar dari PNS." ayah tampak haru. Aku jawab dengan mengaminkannya, "aamiin." Lalu ayah kembali banyak bercerita. Mulai dari masa kecilnya, masa kecil ibu, sampai masa kecilku. Lalu ayah berpesan tentang tips-tips parenting. Ayah juga berpesan tentang pernikahan. Ayah berharap pernikahanku nanti adalah pernikahan yang bahagia. Ia juga berkata akan sering berkunjung ke rumahku untuk liburan. Ia tahu aku telah jatuh cinta pada pemuda yang berasal dari luar provinsi.

"Nanti kalau ayah sudah pensiun, ayah mau sering berkunjung ke rumah kamu. Ayah mungkin sampai berbulan-bulan tinggal di rumah kamu. Biarlah ayah jadikan sebagai liburan. Refresing. Pokoknya nanti di mana pun kamu tinggal, ayah akan ikut kamu."

Senin, tanggal 5 November, sore hari setelah adzan ashar, aku pergi ke kamar kecil mau berwudhu. Ibu tiba-tiba memberhentikan langkahku hanya untuk mengatakan. "Kami hari ini ulang tahun pernikahan. Sudah 30 tahun kami menikah." Mata ibu tampak berkaca-kaca. Aku merasa aneh sekali. Karena biasanya tidak pernah beliau menyebut tentang ulang tahun pernikahan. 29 tahun sebelumnya tak pernah disebut, tak pernah dirayakan. Bahkan aku ga ngeh kalau 5 November adalah hari pernikahan ayah ibu. Ibu seperti ingin megatakan sesuatu tapi tak tersampaikan. Aku lalu mengambil wudhu dan sholat. Setelah sholat ku lihat ke dapur lagi. Ternyata ayah dan ibu sudah bersiap mau jalan-jalan. "Kami mau jalan-jalan sore dulu", kata ibu.

Mereka tak mengajakku. Tak seperti biasanya. Biasanya sejak aku pulang dari asrama, setiap mau jalan-jalan, aku selalu diajak. Ayah kadang setengah memaksaku untuk ikut. Kali ini entah mengapa aku ingin sekali ikut. Tapi ayah berlalu begitu saja. Tak ada kata mengajak. Ku pikir mungkin ayah ibu mau merayakan pernikahan mereka berdua saja. Jadi ku biarkan mereka pergi berdua. Namun ada yang sangat aneh di hatiku. Perasaan seperti aneh. Aneh ayah bersikap tak seperti biasanya. Apa ia sedang marah kepadaku karena aku ada salah sikap. Aku merasa tak enak hati. Di samping aku merasa kecewa tak diajak. Pikiran dan persaanku berkecamuk.

Selasa, tanggal 6 November 2018. Aku terbangun pukul 2 malam. Seperti biasa ayah sudah bangun di jam segitu. Aku pergi ke kamar kecil mengambil wudhu. Ku dengar ayah telah sibuk bekerja di dapur. Beliau menyiapkan panggangan sate. Jam segini ayah sudah bersiap dengan memanaskan arang. Aku pernah menawarkan untuk menggantikan posisinya. Ayah bersikeras tidak mau. "Biar ayah saja", selalu begitu katanya. Hatiku terluka melihat perjuangannya. Aku menangis sedih merasakan kerja kerasnya. Setelah sholat tahajud, aku pergi ke dapur, ku lihat ibu sudah menyusul ayah bekerja di dapur. Ibu bercita-cita mau naik haji dengan uang hasil kerja kerasnya sendiri. Itu yang membuat beliau tak mau menghentikan kerja keras nya meski di usia yang sudah lelah.

Aku kemudian menulis di kamar sampai tiba sholat shubuh. Lalu aku pergi lagi ke kamar kecil untuk mengambil wudhu. Ku dengar suara ceramah ustad Abdul Somad dari handphone ayah. Rupanya ayah sudah mendownload video ceramah terbaru UAS. Tanggal 5 November UAS berceramah ke daerah asalku. Aku dan ibu pergi mau ikut melihat langsung ceramah beliau. Meskipun nyatanya tak nampak juga beliau. Ayah ingin juga melihat UAS, tapi tak bisa meninggalkan sekolah. Sepulang sekolah ayah menonton ceramah UAS saja dari televisi kata beliau. Ternyata beliau pulang cepat hari itu. Samapai rumah, ayah nonton ceramah langsung di televisi. Waktu aku masih di lokasi ceramah, ayah sms, "Ayah nonton di uma." Aku balas, "mantap".

cerita tentang ayah

Setelah sholat subuh, aku pergi ke dapur lagi. Ayah sedang sholat. Ibu meminta aku menyiapkan bekal untuk ayah. Setelah bekal selesai aku letakkan di atas meja makan. Ayah sedang memakai kaos kaki. Aku menyapa beliau dengan berkata, "ini bekal, yah." Namun beliau diam saja. Beliau bahkan tak melirik sama sekali ke arahku. Beliau benar-benar fokus melihat kaos kaki beliau. Aku merasa sedikit heran. Aku pikir, apa mungkin aku ada salah. Tak sengaja ku lihat wallpaper di handphone beliau. Baru pagi itu beliau ubah ke foto kami sekeluarga. Sebelumnya foto berdua dengan ibu. Aku bertambah merasa aneh. Tiba-tiba aku ingat kalau aku lupa membawa handphone, aku pergi ke kamar sebentar mengambil handphone. Begitu aku ke dapur lagi, ayah sudah tak kelihatan.

"Mana ayah, bu? Sudah berangkat?" 

"Iya"

Aku tambah merasa  heran. Ada perasaan yang mengganjal di hatiku. Tak seperti biasanya ayah pergi tanpa mengucap pamit. Biasanya ayah akan berteriak riang, "Ayah berangkat dulu." Walau pun sedang tak ada orang di dapur. Ayah tentu tahu orang-orang ada di ruangan lain. Biasanya kami menjawab, "Iya yah." Baru kemudian ayah berangkat. Aneh sekali ayah pergi dalam diam seperti itu. Aku jadi kepikiran. Namun aku tetap melanjutkan perkerjaan dapur. Aku membersihkan dapur dan mencuci piring. Selama mencuci piring aku merenungi kejadian-kejadian janggal yang baru-baru terjadi. Selama mencuci piring, pikiranku sangat tidak tenang. Aku bahkan merasa dunia sangat aneh. Ku lihat langit berwarna kuning aneh. Seperti aku berada di dunia khayal. Aku terus berucap, "Apa yang mungkin akan terjadi?" Aku mengucapkan kalimat ini berulang-ulang.

Selesai beres dapur, aku membuat teh manis dan bersiap menyantap kue pagi. Kakak menghampiriku sambil menggendong anaknya yang masih bayi. Aku menggendong anak kakak dan berfoto. Lalu segera menguploadnya di instagram. Rasanya itu pertama kalinya aku upload foto dengan anak kakak di instagram. Pagi itu suasana terasa sangat aneh. Aku dan kakak kemudian berdiskusi tentang dunia tulis menulis dan dunia internet. Tiba-tiba ada telepon dari ibu.

"Astagfirullah," kata kakak.

"Kenapa kak?" tanyaku penasaran.

"Ayah kecelakaan. Ibu dapat telpon dari polisi. Ibu minta tolong kasih tahu adik-adik, nanti begitu sampai rumah, langsung berbalik menuju lokasi kecelakaan."

Kami lalu menunggu adik-adik pulang dari mengantar ibu ke lokasi ibu dagang. Begitu mereka pulang, aku yang memberitahukan mereka harus ke lokasi kecelakaan. Mereka bergegas berangkat. Dalam hatiku ada sedikit keanehan. Sebelumnya ayah tak pernah kecelakaan sampai melibatkan polisi. Ayah juga pengendara yang sangat berhati-hati.

Baru saja adik-adik berangkat menuju lokasi kecelakaan, kakak dapat telepon lagi. "Ibu minta telepon adik-adik supaya ke rumah sakit saja. Polisi akan antar ayah ke rumah sakit. Ibu juga minta kakak siapkan hal-hal yang mungkin perlu; fotokopi KTP ayah, fotokopi BPJS, dan yang lain yang mungkin perlu." Kakak langsung bersiap.

Selang beberapa menit, giliran aku yang dapat telepon. Telepon dari adik bungsuku, "Ngah, Ayah ninggal ngah. Tolong siapkan kasur untuk ayah. Kasih tahu tetangga- tetangga." Katanya sambil terbata-bata dan terisak. Aku berucap "Innalillahiwainnaillaihirojiun" bertepatan dengan kakak keluar dari kamarnya memegang dokumen yang telah disiapkannya. Ia langsung lemas dan duduk di lantai, "Innalillahiwainnaillaihirojiun". Kakak pun menangis. Pada waktu itu, aku tak meneteskan air mata sama sekali. Aku masuk ke kamarku. Ku tutup pintu. Ku tengadahkan wajah ke langit, dan berkata, "Ya Allah, apakah ini jawaban dari persoalan besar ayah? Apakah ini jalan keluarnya? Ternyata ini yang terjadi. Inikah ternyata jawabannya?"

Dalam diam aku keluar dari kamar untuk menyiapkan semuanya. Pada waktu itu aku belum menyapu rumah. Kakak dan suaminya pergi mengantarkan anak mereka ke pengasuhnya. Aku membersihkan meja-meja yang penuh kue-kue lebaran yang belum habis-habis. Juga mau menyingkirkan meja-meja. Namun semuanya malah terjatuh. Semua kue itu bertebaran di sepenuh ruangan. Tanganku nyatanya gemetaran. Ku bersihkan ruangan itu. Tetangga mulai berdatangan membantu banyak hal. Kakak telah memintakan bantuan para tetangga. Sampai jenazah ayah tiba di rumah, aku tetap tak meneteskan air mata. Semua duka bertumpuk dalam dadaku dan membeku. Kalau saja orang-orang melihat tanganku, mungkin mereka akan melihat tanganku yang bergetar hebat.

Aku tetap tampak tenang dan disuruh ini itu oleh banyak orang. Hari itu sangat sibuk. Aku bahkan tak sempat lama-lama dekat dengan ayah. Tak sempat aku mengecup dahinya. Tak sempat aku memeluknya. Segala sesuatu berjalan dengan sangat cepat hari itu. Begitu cepat sampai ayah telah berada di dalam bumi. Ayah tak ada lagi. Ayah tempatku bercerita banyak hal. Ayah tempatku mengadukan dan berkeluh kesah tentang banyak masalah. Ayah yang selalu menjadi jawaban dari semua masalahku. Ayah yang selalu mendukungku. Ayah yang selalu mendampingiku. Ayah yang selalu menyemangatiku. Mungkin ini memang yang terbaik untuk ayah. Karena ia tengah berada dalam masalah besar yang seakan tak akan ada jalan keluarnya. Ternyata jalan keluarnya ada di luar nalar manusia.

Begitulah nyatanya kehidupan ini. Orang yang tadinya selalu ada di sisi kita. Pada akhirnya menjadi tiada. Manusia hidup di muka bumi. Pada akhirnya masuk ke dalam bumi. Sepulang dari pemakaman ayah, aku masih belum bisa mencairkan batu yang ada dalam hatiku. Tiga hari kami dihibur dengan banyaknya orang yang datang. Ketika tak ada lagi orang-orang, ketika aku mulai harus menghadapi kenyataan bahwa ayah tak lagi ada. Barulah air mataku keluar. Bahkan mungkin jauh lebih dalam dari yang orang kira. Begitu luka kehilangan orang yang dicintai. Barulah aku terasa kata ikhlas itu nyatanya sangat sulit dilaksanakan. Bagaimana mungkin aku bisa melupakan kebersamaan dengan ayah. Yang mungkin bisa ku katakan adalah orang yang paling dekat denganku. "Ayah, aku sangat mencintaimu. Aku akan selalu merindukanmu. Sampai jumpa lagi, ayah. Semoga nanti kita akan selalu bersama dalam kebahagiaan yang kekal abadi. Aamiin."

4 Responses to "Kebersamaan dengan Ayah"

  1. Kenangan yang tak terlupakan ya kak,semoga ayahnya mendapat banyak doa dari anaknya. Mba anak yang berbakti.

    ReplyDelete
  2. Mulai menangis saya pas masuk bagian akhir. Jadi ingat sama alm papah. Semoga surga untuk ayahnya ya, Mbak. Aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Makasih, mbak. Semoga surga untuk papanya mbak juga. Aamiin.

      Delete

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel