Kemerdekaan Indonesia

Aku duduk memandangi perbukitan Pulau Timor yang kering. Perbukitan tersebut tampak jauh dari pandanganku. Warnanya kecokelatan. Tak seperti pemandangan perbukitan pada umumnya yang akan menampakkan sisi hijau. Aku berpikir tentang Indonesia. Negeri berjuta pesona. Negeri yang sangat indah. Negara yang memiliki keelokan alam. Keelokan alam yang sangat beragam. Ada lautan yang sangat luas. Ada beribu pulau. Ada hutan hujan yang lebat. Ada beraneka flora fauna. Hingga di Timor ini ada pulau karang.

Informasi yang kudapatkan mengatakan bahwa pulau Timor itu adalah pulau karang. Tanahnya tak sama dengan tanah beribu pulau lainnya yang ada di Indonesia. Tanahnya kering nan tandus. Kalau memang karang ya tentu saja tanahnya akan kering seperti batu. Batu karang. Ini juga membuat air susah ditemukan. Daerah aliran sungai seolah hanya menunggu musim hujan. Musim hujan pun umumnya hanya datang setahun sekali. Dalam kurun waktu tiga bulan saja.

Yah tiga bulan terkenal dengan sebutan umur jagung. Jagung kalau ditanam sudah bisa panen dalam waktu tiga bulan. Mungkin itu alasan masyarakat di sini mayoritas penanam jagung. Masa musim hujan cocok dengan umur jagung. Jagung pun menjadi makanan pokok di sini sejak jaman dahulu. Masyarakat biasanya hanya menanam jagung untuk keperluan makan keluarga. Tidak untuk diproduksi masal dan diperdagangkan. Karena untuk satu keluarga saja butuh jagung banyak. Masa tanam cuma setahun sekali. Sekali panen harus cukup untuk cadangan makanan selama satu tahun.


Jagung yang sudah dipanen akan didoakan dahulu. Jika belum, maka keluarga itu belum boleh mencicipinya walau sedikit. Setelah didoakan bersama, jagung akan disimpan dalam gudang. Jagung yang dipanen adalah jagung yang sudah sangat masak. Berbeda sekali dengan daerah asalku yang biasanya memanen jagung yang masih muda. Jagung muda kalau direbus rasanya lembut dan manis. Di sini jagung dipanen umumnya adalah yang sangat masak. Jagung yang sangat masak akan tahan jika disimpan dalam waktu yang lama.

Gudang hasil panen berbentuk bulat. Atapnya berbentuk kerucut dari daun lontar. Dindingnya dari kayu. Lantainya dari tanah. Besar kecilnya tergantung keperluan dan kesanggupan keluarga. Jagung biasanya digantung di langit-langit gudang. Atau dibuatkan tempat menyimpan khusus namun tetap di bagian atas dari gudang. Biasanya akan disusun kayu di bagian langit-langit yang membentuk ruang yang tinggi. Ini bisa menjaga awetnya jagung. 

Arti Kemerdekaan Indonesia

Cara menyimpan makanan seperti ini sudah pernah aku ketahui ketika aku masih kecil. Aku pernah tinggal di daerah pertanian. Aku tinggal dengan nenekku yang merupakan petani kopi. Di rumah nenek juga ada gudang di atas perapian. Kata nenek gudang semacam ini membuat yang disimpan menjadi awet. Biasanya nenek menyimpan kayu bakar di sana. Lalu bawang merah dan bawang putih. Mungkin cara ini memang sering dilakukan masyarakat dari jaman dahulu di berbagai daerah.

Well, untuk makan sehari-hari menjadi aman. Masalah muncul ketika sudah ada keperluan lain yang butuh biaya. Misalnya saja keperluan pendidikan anak-anak. Pemerintah mencanangkan program pendidikan wajib. Selain diwajibkan pemerintah, masyarakat juga sudah mulai berpikir untuk turut menyekolahkan anak-anak mereka. Mereka sadar bahwa jaman terus berubah. Anak-anak mereka butuh pendidikan. Mereka pun mau menyekolahkan anaknya. Anak-anak didaftarkan ke sekolah.

Pendidikan wajib sembilan tahun dari pemerintah memang gratis. Tapi ada biaya lain yang tidak gratis. Misalnya saja anak-anak mereka nyatanya butuh sepatu untuk ke sekolah. Anak-anak mereka butuh alat tulis. Kemudian butuh seragam sekolah. Lalu juga butuh tas. Tapi mencari uang kadang tak semudah yang dibayangkan sebagian orang. Karena sebagian orang memiliki kondisi yang berbeda untuk dihadapi.

Potensi sumber daya alam sangat minim. Hal yang bisa menghasilkan uang tak sebanyak yang ada di pulau lain di Indonesia. Sebagian masyarakat memilih mencari kayu bakar. Sebagian berusaha mencari sayur-sayuran di daerah yang tumbuh sayur liar. Ternyata masih ada daerah yang dialiri sedikit air. Ada kangkung-kangkung liar yang bisa diambil dan dijual. Lalu sebagian masyarakat membuat gula dari air lontar. Berbagai cara yang ada dilakukan. Namun tetap terasa sulit.

Pernah suatu waktu aku dan teman-temanku mendatangi sekolah tak jauh dari perbatasan negara. Bangunan sekolahnya bagus. Tak jauh berbeda dengan sekolah-sekolah yang ada di daerah asalku. Guru-gurunya juga banyak dan merupakan pegawai negeri sipil. Yang berbeda adalah anak-anak yang bersekolah di sana. Banyak yang memakai kantong kresek sebagai pengganti tas sekolah. Ada beberapa yang memekai sandal jepit sebagai pengganti sepatu. Bahkan ada yang tak memakai alasa kaki sama sekali. Seragam sekolah mereka kebanyakan lusuh. Banyak pula yang seragamnya tak lengkap. Ada yang tak ada topi, ada yang tak ada ikat pinggang, ada yang tak ada dasi.

Arti Kemerdekaan Indonesia

Tapi mereka penuh senyum dan tawa. Mereka terlihat bahagia. Mereka tampak sebagai anak Indonesia yang kuat dan bersemangat. Melihat mereka aku jadi yakin bahwa perbatasan aman jika mereka yang menjaga. Mereka ini adalah penjaga-penjaga perbatasan yang bisa diandalkan. Mereka begitu bersemangat bersekolah. Lagian leluhur mereka punya kisah yang panjang dalam mempertahankan perbatasan dari berbagai konflik berkepanjangan. Mereka di sini tahu betul arti menjaga NKRI.

Seorang teman bercerita bahwa ketika masa konflik lepasnya Timor Leste ia dan keluarganya terlibat. Pada waktu itu ia tinggal di Dili. Ketika diadakan referendum, keluarga mereka memilih Indonesia. Sempat ku tanya, "Kenapa pilih Indonesia?" Ia menjawab, "Karena memang kami kan Indonesia." Hanya itu saja jawabannya. Jawaban yang sangat sederhana. Tapi pengorbanan mereka tak sesederhana itu. Mereka terpaksa meninggalkan semua harta benda mereka di sana.

"Dulu saya masih kecil. Orang tua kami berdagang. Hasilnya baik. Kami punya rumah dan beberapa bidang tanah. Semua itu harus kami tinggal. Kami juga tidak tahu waktu itu kami harus pindah kemana." Lalu aku bertanya tentang harta yang lain, "Apa benar-benar ga ada yang bisa dibawa?"

"Ada. Kami ditawarkan bantuan seorang kenalan bapak kami. Ia mengajak kami pindah ke daerah yang ia tahu aman katanya. Ia juga menyediakan bantuan truk pengangkut barang. Semua harta benda kami yang bisa diangkut, dibawa dengan truk itu. Sementara kami naik dengan kendaraan yang berbeda. Ternyata orang itu bohong. Ia kabur dengan semua harta benda kami. Jadilah kami mencari tempat sendiri. Dan memulai kehidupan kami benar-benar dari nol.

Kami sampai di sini, Bu. Tak kenal siapa-siapa. Kami lihat ada rumah kosong yang sepertinya memnag sudah lama ditinggal orang. Kami tinggal di sana. Masyarakat bilang rumah itu angker. Kami sebaiknya jangan di sana. Tapi kami ga ada pilihan lain. Kami tetap mau tinggal di rumah itu. rumah itu kami bersihkan. Dan kami tinggal di sana. Kami kelaparan. Ga ada makanan. Kami pada waktu itu terpaksa makan rumput, Bu.

Ibu saya berinisiatif begitu. Ibu saya katanya ketemu kaleng bekas. Kata ibu saya kami bisa makan rerumputan saja. Ibu tahu beberapa rumput yang aman dimakan. Bapak cari air dan buat api. Kami merebus rumput di kaleng itu. Begitulah kami makan. Sedih banget, Bu. Sampai bapak ketemu ternyata ada uang sepuluh ribu di sakunya. Lalu ibu saya berpikir uang sepuluh ribu mau buat apa. Ibu saya pikir jangan dimakan. Tapi dijadikan modal usaha."

Aku takjub dan bertanya, "Sepuluh ribu rupiah? Dijadikan modal usaha?"

"Ia, Bu. Ibu saya beli kacang ijo. Lalu kacang ijo direbus. Entah kenapa ga masak-masak. Semalaman ibu saya ga dan bapak ga tidur. Besoknya malah kacang ijonya jadi kecambah. Ibu saya jual saja kecambah itu. Uangnya bertambah sedikit. Ibu jadikan modal buat lotek. Terus uangnya bertambah lagi. Begitu terus sampai akhirnya ibu saya buat warung makan kecil. Hasilnya lumayan untuk kami hidup dengan normal. Seengganya ga makan rumput lagi."

Aku geleng-geleng kepala. Aku salut dengan perjuangan mereka. Demi memilih Indonesia mereka seperti itu. Ternyata sebegitunya mereka mencintai Indonesia. Lalu aku iseng bertanya, "Apa ga pernah terpikir kalau punya negara baru akan lebih maju dan baik kehidupannya?" Ia menjawab, "Mana mungkin, Bu. Sama saja dengan dijajah. Kembali seperti masa penjajahan dulu. Kata bapak saya, hidup di masa penjajahan ga akan ada enaknya. Meskipun penjajahnya kelihatan baik. Ujung-ujungnya hidup malah susah."


Sekarang Indonesia sudah merdeka. Hidup terasa aman. Bisa berpergian ke mana saja. Indonesia memiliki luas wilayah yang sangat luas. Bisa memilih mau menempuh hidup seperti apa. Iseng-iseng aku pernah bertanya juga dengan salah seorang teman yang lain lagi di sini, "Apa ga pernah terpikir untuk pindah ke pulau lain di Indonesia? Kalau memang kehidupan di sini terasa sulit. Sumber daya alam sepertinya minim. Apa tidak mau pindah saja?"

Ia pun menjawab, "Sudah banyak yang coba, Bu. Tapi tidak bisa. Nyatanya hidup di pulau lain ga semudah itu juga. Mungkin kami sudah diciptakan cocok tinggal di sini. Pindah ke tempat lain malah tambah sengsara. Orang-orang yang coba tinggal di pulau lain akhirnya pulang ke sini juga." 

Memang tidak mudah untuk pindah-pindah tempat tinggal. Bagi sebagian orang memilih menetap di tanah kelahiran dari awal sampai akhir hayat adalah kebahagiaan. Jika sudah bahagia kenapa harus berpindah-pindah. Namun bagi sebagian orang lain hidup berpindah-pindah adalah hal yang biasa. Seperti prajurit TNI. Mereka terbiasa hidup berpindah-pindah dari satu daerah ke daerah lainnya di Indonesia. Bagi mereka menjalankan tugas adalah suatu kemuliaan. Baik TNI maupun masyarakat di perbatasan ini mereka adalah sama-sama pejuang yang menjaga NKRI.

Sambil berpikir tentang pulau timor dan arti kemerdekaan, aku telah menghabiskan sekotak ice cream yang lumayan besar. Perutku terasa dingin. Aku juga telah menghabiskan satu kebab turki. Rasanya benar-benar kenyang. Aku bersiap untuk pulang. Ku ambil kantong kresek berisi penuh makanan ringan yang aku beli sebelumnya. Aku pun mencari ojek untuk mengantarkan ku pulang.

0 Response to "Kemerdekaan Indonesia"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel