Ibu Kota Baru Indonesia

Penajam Paser Utara dan Kutai Kertanegara

Indonesia Memang Sangatlah Luas..

Salah satu hal berharga yang aku dapatkan ketika bertugas di Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur, adalah kesadaran bahwa Indonesia memang sangatlah luas. Ketika hari-hari pertama ku melihat banyaknya jualan minyak tanah di pasar. Di saat aku melihat masyarakat masih menggunakan kain untuk berpergian kemana-mana. Sewaktu aku melihat alam yang sangat kering dan tandus. Aku sadar bahwa selama ini, Indonesia yang ada di dalam pikiranku itu belum mencakup Indonesia yang seutuhnya. Dulu, yang ada di pikiranku, Indonesia itu adalah negara yang sangat subur, "tongkat, kayu, dan batu jadi tanaman!" Ternyata ga semuanya seperti itu. Itu hanya sebagian dari Indonesia saja.

Pulau Timor adalah pulau dengan tanah karang. Jangankan tongkat, kayu, dan batu, bibit tanaman aja belum tentu tumbuh. Tumbuh pun nanti gimana mau menghidupinya. Air sulit didapatkan. Bagaimana mau rutin menyiram tanaman tersebut. Jangankan untuk bercocok tanam. Untuk keperluan sehari-hari saja air harus benar-benar diperjuangkan. Mau ke mata air lokasinya sangat jauh. Mau beli air keuangan sangat sulit. Potensi alam untuk bisa dijadikan uang sangat minim. Hanya berharap dapat kayu bakar di hutan. Memungut buah asam yang tak seberapa. Kemudian, mencari sayur yang tumbuh sangat sedikit di mata air yang juga jarang ditemui.

Indonesia memang sangatlah luas. Mungkin wajar jika antara ujung timur dan ujung barat tak saling mengenal. Masyarakat di timur tak kenal betul daerah-daerah yang ada di barat. Masyarakat barat pun tak kenal betul masyarakat yang ada di timur. Ketika aku katakan aku berasal dari provinsi Bengkulu, kebanyakan akan merasa heran. Lalu bertanya, "Bengkulu itu di mana?" Begitu ku katakan di Sumatera, kadang masih ada juga yang heran. Karena bagi kebanyakan masyarakat, di luar pulau mereka, hanya ada pulau Jawa. Ketika hampir setahun aku di sana pun, aku masih sering ditanya tentang kondisi di pulau Jawa, "Bu, kalau ibu hidup di Jawa bagaimana? Bagaimana keseharian ibu di sana?"

Lalu ku jelaskan lagi bahwa aku bukan berasal dari pulau Jawa, tapi pulau Sumatera. Tetap saja sulit untuk dipahami. Karena sudah tertanam dalam pemahaman mereka bahwa selain pulau mereka adalah pulau Jawa. Pulau Jawa yang sangat modern. Pulau Jawa yang banyak gedung-gedung tinggi. Banyak kendaraan bagus. Germerlap gegap gempita. Orang-orang berpakaian bagus. Kota yang sangat maju. Begitu indah dan menawan. Sangat jauh berbeda dengan keadaan di pulau mereka. Masyarakat masih banyak yang kemana-mana berjalan kaki. Suasana sangat sepi kendaraan. Tak ada gedung-gedung tinggi yang megah.

Namun mereka tidak iri. Mereka menerima keadaan yang ada pada mereka. Bahkan mereka sangat nasionalis. Mereka adalah masyarakat yang pernah berkonflik tentang pemilihan kewarganegaraan. Mereka tahu kelebihan-kelebihan negara Indonesia. Mereka membanggakan Indonesia. Mereka tidak iri dengan keadaan gemerlap gegap gempita yang tidak mereka miliki. Hanya saja mereka kadang sedih dengan keadaan mereka. Kadang sampai meneteskan air mata. Pernah suatu waktu seorang Pak Guru bercerita dulu ia lolos untuk ikut kegiatan nasional. Kegiatan nasional yang sangat ia harapkan. Semua yang lolos saat itu harus kumpul di ibu kota negara. Pakai uang pribadi dulu, nanti diganti. 

"Sa mana ada uang Ibu Nina. Mau pinjam ju pinjam deng siapa? iya katanya nanti dikembalikan. Tapi tak ada itu uang karmana berangkat ke ibu kota jauh di sana?"

Ada juga kondisi dimana selang berapa bulan selalu ada peserta didik yang putus sekolah. Hilang tanpa kabar. Teman-temannya bilang, "Ibu, untuk apa kami belajar? Kami tamat SMP belum tentu lanjut SMA. Tamat SMA nanti jualan pi pasar. Tamat SMA jadi ojek. Untuk apa kami belajar rajin-rajin. Untuk apa kami sekolah pintar-pintar. Orang-orang biar pintar sudah mereka mereka memang pintar biar. Kami ini beda, Ibu. Biar kami memang ini sudah. Orang, orang. Kami, kami."

Juga ada situasi dimana sedang menonton bersama, lalu ada berita tentang kabar gembira dari kebijakan pemerintah. Langsung disahut dengan, "Itu pasti tidak berlaku untuk kita. Kita ini jauh dari sana. Biasanya kebijakan-kebijakan tidak sampai ke kita. Itu bukan untuk kita." Mereka merasa mereka seperti sangat jauh. Tapi mereka tidak iri. Mereka tidak marah. Mereka bahkan masih sangat mencintai dan membanggakan Indonesia. Apakah ini bentuk dari maklum atas Indonesia yang memang sangatlah luas?

Peta Indonesia

Sebenarnya jangankan di pulau ini, di tempat asalku saja masih banyak daerah yang tertinggal dan seakan terasa jauh. Masih ada daerah yang terisolir. Padahal Jarak Provinsi Bengkulu dan Ibu Kota negara tidak begitu jauh. Naik pesawat sekitar lebih kurang hanya satu jam perjalanan. Aku ada seorang teman yang mengabdikan diri di pedalaman di daerah nya, salah satu kabupaten di Bengkulu. Ia bercerita tentang terisolasinya daerah tersebut. Sangat jauh tertinggal dengan kota maju. Ada sekolah yang gurunya hanya seorang saja. Sekolahnya sulit dijangkau itu masalahnya. Fasilitas umum nyaris tak ada pula.

Tapi memang tetap lebih susah di timur. Ketimpangan bagian timur dan bagian barat memang sangat terasa. Salah satu yang paling mengejutkan aku adalah masalah bahan bakar. Aku pikir dulu konversi minyak tanah ke gas untuk seluruh Indonesia. Ternyata ga begitu. Pulau Timor, lebih tepatnya kabupaten Timor Tengah Utara, bahan bakar yang digunakan rumah tangga adalah masih minyak tanah. Kan pemandangannya jadi sangat berbeda. Di pasar, ada banyak drum-drum minyak. Di dekatnya ada banyak jerigen. Bau minyak tanah menyebar. Pemandangan ini sudah tidak ada lagi di daerah asalku contohnya. Karena sudah berpindah ke gas.

Kalau pendidikan, itu tadi yang berbeda, semangat meneruskan jenjang pendidikan yang jauh senjang. Di daerah asalku, biasanya semangat meneruskan jenjang pendidikan sangat tinggi. Peserta didik berharap mencapai cita-citanya. Cita-cita para peserta didik juga sangat bervariasi, mulai dari mau jadi polisi, dokter, pilot, karyawan perusahaan, pengusaha, guru, ASN, youtuber, dan lain sebagainya. Sedangkan peserta didik di sini kebanyakan tidak memiliki gambaran cita-cita. Bahkan mereka berpikir bahwa cita-cita itu bukan kepentingan mereka. Mereka tidak perlu juga belajar dengan rajin. Tak perlu pula sekolah dengan pintar.

Ibu Kota Baru Indonesia

Beberapa hari yang lalu Presiden Indonesia, Bapak Joko Widodo mengumumkan secara resmi bahwa ibu kota negara akan dipindahkan. Sebelumnya, ibu kota negara adalah DKI Jakarta kemudian nanti akan dipindahkan ke sebagian Kabupaten Penajam Paser Utara dan sebagian di Kabupaten Kutai Kertanegara. Provinsi Kalimantan Timur. Pemindahan dilakukan dengan alasan bahwa ibu kota yang lama, DKI Jakarta memiliki terlalu banyak beban berat yang harus ditanggungnya. Beban tersebut adalah beban sebagai pusat pemerintahan, pusat bisnis, pusat keuangan, perdagangan, jasa, airport,  dan pelabuhan laut terbesar di Indonesia.

Beliau mengatakan bahwa rencana pemindahan ibu kota telah digagas sejak lama. Sejak dari presiden Indonesia yang pertama, Bapak Ir. Soekarno. Beliau juga mengatakan bahwa sebagai bangsa besar yang sudah 74 tahun merdeka, Indonesia belum pernah merencanakan sendiri ibu kotanya. Beliau mengatakan pula bahwa bangsa Indonesia tidak bisa terus menerus membiarkan beban Jakarta yang begitu berat; kepadatan penduduk, polusi udara dan air, kemacetan lalu lintas yang parah,  dan  kesenjangan ekonomi antar jawa dan luar jawa yang terus meningkat.

"Pembangunan ibu kota baru bukan satu satunya cara pemerintah untuk mengurangi kesenjangan antara Jawa dan luar pulau Jawa. Pemerintah akan membangun industrialisasi di luar Jawa berbasis ilirisasi sumber daya alam. Dan Jakarta akan tetap menjadi prioritas pembangunan pembangunan dan terus dikembangkan menjadi kota bisnis, pusat keuangan, pusat perdagangan, pusat jasa berskala regional dan global. Dan rencana pemprov DKI untuk melakukan urban regeneration yang dianggarkan 571 trilyun tetap terus dijalankan."

Beliau juga mengatakan bahwa pemerintah telah melakukan kajian yang mendalam tentang pemindahan ibu kota negara. Kemudian dari hasil kajian tersebut, pemerintah menyimpulkan bahwa lokasi ibu kota baru yang paling ideal adalah di sebagian Kabupaten Penajam Paser Utara dan sebagian di Kabupaten Kutai Kertanegara Provinsi Kalimantan Timur. Alasannya: Pertama, resiko bencana minimal baik berupa kebakaran hutan, banjir, gempa bumi, tsunami, gunung berapi, dan tanah longsor. Kedua, lokasi yang strategis, berada di tengah Indonesia. Ketiga, dekat dengan wilayah perkotaan yang sudah berkembang , Balikpapan dan Samarinda. Keempat, telah memiliki infrastruktur yang relatif lengkap. Kelima, telah tersedia lahan yang dikuasai pemerintah seluas 180 ribu hektar.

Untuk soal pendanaan, pemerintah telah mentotal kebutuhan pendanaan adalah kurang lebih 466 trilyun. 19% nya nanti akan berasal dari APBN. Terutama dari skema kerjasama aset ibukota baru dan ibukota lama. Lalu sisanya berasal dari KPBU kerjasama pemerintah dan badan usaha serta investasi langsung swasta dan BUMN.  Semoga pemindahan ibu kota ini menjadi langkah yang baik untuk mengatasi kesenjangan yang terus meningkat antara pulau Jawa dan Luar Jawa. Harapannya Indonesia bisa menjadi negara yang merata kemakmurannya.

1 Response to "Ibu Kota Baru Indonesia"

  1. Dibalik banyaknya positif dan negatif perpindahan ibu kota negara aku setuju dengan keputusan pak presiden. Well, menurutku hal ini sangat baik untuk pemerataan pembangunan. jakarta kan sudah sangat penuh sesak jadi baik sekali kalau sebagian muatannya dibagi ke Kalimantan

    ReplyDelete

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel