Cerita Idul Adha

Serba Serbi Menjalani Hari Raya Idul Adha

Hari ini cuapguru ingin berbagi kisah tentang perayaan Idul Adha di beberapa daerah. Terkhusus yang pernah aku alami sendiri. Dulunya aku hanya pernah membaca buku. Bahwa ternyata perayaan Idul Adha itu bisa sangat berbeda antar satu daerah dengan satu daerah lainnya. Sewaktu aku tinggal di rumah kakek, kebetulan beliau langganan majalah. Aku melihat ada artikel yang unik. Dijelaskan tentang kisah mahasiswa Indonesia di luar negeri yang mengalami culture shock. Ia di hari Idul Fitri mengucapkan selamat Idul Fitri dengan suka cita. Malah disambut dingin dengan temannya. Temannya berkata, "Bukankah Idul Fitri adalah hari raya kecil, hari raya besar bukannya Idul Adha ya?" Dan mahasiswa Indonesia tersebut terdiam.

Lalu sepanjang artikel-kalau tak salah ingat-dijelaskan bahwa sebenarnya hari raya besar itu adalah Idul Adha. Maksudnya Idul Adha lebih besar dari pada Idul Fitri. Seharusnya lebih diistimewakan, lebih dimeriahkan daripada Idul Fitri. Tentu saja bukan berarti menyudutkan hari raya Idul Fitri. Yang jelas dua hari raya ini adalah hari besar dalam Islam. Dua duanya adalah hari raya. Dan ketika besar aku melihat sendiri di setiap daerah memang memiliki cara yang berbeda-beda. Dimulai dari memoriku ketika tinggal di perbatasan Curup-Kepahyang. Di sana semasa aku kecil, Idul Adha dirayakan sangat meriah sama seperti Idul Fitri. Kami juga bersilaturahmi seharian sama seperti di waktu Idul Fitri.


Ketika aku tinggal di Bengkulu, perayaannya mulai tampak berbeda. Perayaan Idul Adha sangat berbeda dengan Idul Fitri. Saat Idul Fitri ada begitu banyak makanan di setiap rumah. Sedangkan di Idul Adha tidak ada. Kalau pun ada hanya ala kadarnya. Suasana pun sangat sepi, tak ada saling bersilaturahmi. Hampir semuanya stay di rumah masing-masing. Katanya sedang menunggu kegiatan qurban di masjid. Pelaksanaan pemotongan hewan qurban di masjid juga berbeda-beda tergantung kebijaksanaan pengurus masjid. Ada yang langsung pemotongan setelah sholat Id. Ada pula yang menunggu setelah siang. Ada pula yang malah menunggu keesokan harinya.

Serba serbi menjalani hari raya Idul Adha

Di tahun kedua aku kuliah, aku mencoba suatu hal yang baru. Yaitu merayakan Idul Adha di kampung halaman sahabat. Kampungnya di perbatasan Bengkulu-Sumatera Selatan. Namanya Kota Padang. Rumah sahabatku, Tati Iramaya, berada tepat di depan rel kereta api. Ia sering bercerita uniknya merasakan kereta api lewat dari rumahnya. Aku sangat penasaran. Soalnya di Bengkulu tak ada kereta api. Di masa libur Idul Adha, aku dan Nuhasanah, sahabatku juga, berangkat ke rumah Tati. Ini kali pertamanya aku merayakan lebaran jauh dari keluarga. 

Ternyata perayaan Idul Adhanya meriah. Mirip seperti Idul Fitri. Antar keluarga saling bersilaturahmi. Di setiap rumah, tersedia banyak makanan. Kue-kue khas lebaran disiapkan dengan apik di atas meja tamu. Kami ada stay di rumah, dan banyak tetangga datang berkunjung. Berikut kami juga berkunjung ke rumah tetangga. Ada yang kami hanya makan kue-kue saja. Namun ada juga bahkan di satu rumah, yang kata Tati paling dekat dengan keluarganya, kami memanggang sate. Kami lama di rumah tersebut. Masak sate untuk kami sendiri, dan memakannya dengan lahap. Sambil saling melontarkan canda tawa.

Serba serbi menjalani hari raya Idul Adha

Kedua kalinya aku lebaran jauh dari kampung halaman adalah ketika bertugas di Nusa Tenggara Timur. Di sini banyak perbedaannya dengan kampung halamanku. Pertama adalah harga hewan qurban yang memang sangat jauh berbeda. Aku kaget ketika salah seorang guru bercerita bahwa harga seekor kambing di kampungnya hanya RP 500.000 saja. Seekor sapi harganya hanya Rp 4.000.000 saja. Kalau di Bengkulu, harga kambing bisa Rp 2.500.000. Dan sapi bisa Rp 10.000.000 an. Ternyata ini salah satu kelebihan mereka. Mereka memiliki banyak peternakan. Padahal di sana sangat kering. 


Kedua, antusisas masyarakat muslim sangat tinggi di Idul Adha. Banyak yang mau untuk berqurban. Satu masjid bisa ada empat puluh sapi qurban. Dan lebih dari empat puluh kambing qurban. Halaman masjid sudah mirip peternakan jadinya. Atau seperti pasar hewan qurban. Selain banyak yang mau qurban, juga banyak yang mau bekerja untuk pemotongan hewan qurban. Besar, kecil, tua, muda semua terlibat di masjid. Semua laki-laki turun tangan dalam mengurus hewan qurban mulai dari penyembelihan, pemotongan, dan pembagian. Sedangkan yang perempuan menyiapkan masak-masak untuk makan bersama di masjid.

Karena hewan qurbanya banyak banget, jadi sambil potong, sambil ada acara makan juga. Kalau sudah ada yang dipotong, bisa dikasihkan ke perempuan-perempuan yang ada di tempat masak. Ada juga laki-laki yang jadi tim pemanggang sate. Jadi kalau beberapa petugas pengolahan daging qurban capek, bisa rehat makan-makan dulu di masjid. Dari pagi seperti ini, setelah sholat Id. Sampai sore hari baru selesai pengolahannya. Dan beberapa orang sudah sampai makan berkali-kali di masjid. Hewan qurban pun melimpah. Dibagi-bagikan juga ke semua yang terlibat. Bahkan masih banyak banget yang berlebih.

Ketiga, daging qurban dibagikan ke non-muslim. Karena daging qurban sangat melimpah di setiap masjid. Semua muslim sudah dapat bagian bahkan banyak banget. Daging banyak berlebih, muslim sudah menolak karena sudah kebanyakan. Aku pun termasuk orang yang menolak. Aku tak ada kulkas untuk penyimpanan masa panjang. Akhirnya daging qurban juga dibagikan kepada non-muslim. Muslim di sana sangat sedikit. Kita bahkan bisa hafal semua keluarga muslim yang ada saking sedikitnya jumlah muslim. Jadi non-muslim juga banyak yang dapat mencicipi daging hewan qurban di hari raya yang indah itu.

Lalu tahun berikutnya, saat menjalani pendidikan di Padang, Sumatera Barat, aku berkesempatan merasakan Idul Adha di asrama. Liburnya singkat, tak sempat untuk pulang kampung. Teman-teman yang asal Sumatera Barat pulang ke rumahnya masing-masing. Kami yang berasal dari provinsi lain kebanyakan tinggal di asrama. Aku dan teman sekamarku, Rara, memilih tetap di asrama. Hesti teman sekamarku yang berasal dari Riau pulang kampung. Katanya kampungnya tak begitu jauh dari Padang. Hanya enam jam perjalanan. Sebelum memasuki masa libur kami sumbangan untuk qurban. Uang yang terkumpul diberikan ke masjid terdekat dengan asrama untuk dibelikan dengan hewan qurban. 


Di hari Idul Adha asrama terasa sepi. Kami juga tak ada jatah makan dari katering asrama karena dianggap libur. Aku dan teman sekamarku, Rara, dan juga Tantri, beli sarapan sate padang. Untungnya ternyata ada yang jualan makanan. Siangnya beli makanan lagi. Sore hari, kami yang masih ada di asrama, mendapat daging qurban dari masjid. Kami pun mengolahnya. Kami membersihkannya dan menyiapkan untuk masak sate. Malam hari kami baru siap memanggangnya. Kami pun makan malam dengan daging hewan qurban tersebut. Jumlahnya tak banyak. Pas saja untuk makan malam anak asrama.

1 Response to "Cerita Idul Adha"

  1. Di NTT tuh seru, seekor kambing 500 ribu foang, Masya Allah. Semoga kita dimudahkan untuk ikut berkurban setiap tahun

    ReplyDelete

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel