Belajar Bahasa Mandarin

Belajar Bahasa Mandarin

Setelah menyelesaikan pendidikan di sekolah menengah atas, aku mendapatkan libur panjang. Libur yang teramat panjang menjelang masuk ke perguruan tinggi. Seorang kakak sepupu menyarankan aku untuk mengambil kelas kursus bahasa Mandarin. Kata beliau, "Bahasa Mandarin adalah bahasa Internasional kedua. Banyak masyarakat dunia yang menggunakan bahasa Mandarin. Ekonomi negara Tiongkok juga sedang maju pesat. Bisa jadi di kemudian hari, skill berbahasa Mandarin sangat dibutuhkan." Aku mengangguk-angguk percaya.

Kebetulan sekali ayahku juga menyarankan aku mengambil kursus. "Boleh kursus apa saja", kata ayah. Aku bebas memilih mau ikut kursus apa. Ayah ingin aku mengisi waktu libur panjangku dengan hal yang bermanfaat dan yang aku senangi. Aku teringat saran kakak sepupuku. Aku tertarik untuk mempelajari bahasa Mandarin. Begitu ku sampaikan, ayah langsung setuju. Aku kemudian mencari lembaga kursus bahasa Mandarin. 

Lembaga kursus bahasa Mandarin belum banyak seperti lembaga kursus bahasa Inggris. Mencarinya lumayan memakan waktu. Untungnya ketemu juga pada akhirnya. Tapi tempatnya jauh dari rumahku. Aku agak ragu. Di sana juga kurang banyak transportasi umum. Takutnya nanti malah ribet. "Biar ayah antar jemput", kata ayahku. Beliau mendukung sekali. Aku kemudian mendaftar ke lembaga kursus tersebut. 

Lembaga kursus tersebut baru berdiri. Pendirinya sepertinya baru tamat kuliah S3 bidang bahasa. Lembaga tersebut miliknya pribadi. Kelas yang disediakan juga berada di halaman depan rumahnya. Memang halaman rumahnya sangat luas. Ketika aku mendaftar, ternyata sudah ada dua orang sebelumku yang mendaftar. Jadi kelasnya bisa segera dimulai. Program belajarnya ternyata hanya tiga bulan saja.

Yang mengajar kelas bahasa Mandarin bukan pemilik kursus tersebut. Pengajarnya adalah asli orang Tiongkok. Lǎo shi, begitulah ia minta untuk dipanggil. Lǎo shi artinya guru. Pada waktu aku mendaftar kursus, ada isu nasional untuk mengganti sebutan "Cina" dengan "Tiongkok". Di pertemuan awal dengan Lǎo shi rupanya Lǎo shi langsung menjelaskan tentang isu tersebut. 

Kata  Lǎo shi, " 'Cina' bisa berarti negatif, yaitu sejenis penghinaan. Ini terkait dengan intonasi dalam penyebutan bahasa Mandarin. Sehingga kata 'Cina' bisa dipelesetkan menjadi sebuah penghinaan. Lebih baik menggunakan kata Tiongkok. Kata ini merupakan kata serapan dari bahasa Mandarin yang menyebut negaranya dengan Cung Kwok . Semenjak mendengarkan penjelasan ini, aku selalu mengusahakan menyebut Tiongkok daripada Cina.

Mengenai bahasa Mandarin, ternyata bahasa Mandarin adalah bahasa persatuan di negara Tiongkok. Bahasa ini adalah bahasa pemersatu yang diciptakan untuk mempermudah komunikasi. Pasalnya di daratan Tiongkok ada begitu banyak suku bangsa yang memiliki bahasa daerahnya masing-masing. Aku sama sekali ga menyangka sebelumnya. Kalau ternyata di daratan negara mereka bahasanya bisa sangat berbeda satu sama lain meskipun daerahnya berdekatan.
Kalau dipikir sangat wajar. Daratan negara mereka bahkan jauh lebih luas dari luas daratan negara Indonesia. Indonesia saja memiliki kalau tidak salah 400-an lebih ragam bahasa daerah. Yang antar daerah bisa sangat berbeda walau daerahnya berdekatan pun. Apalagi mereka yang negaranya lebih luas. Ternyata jumlah bahasa daerah mereka jauh lebih banyak dari jumlah bahasa daerah yang ada di Indonesia. 

Luasnya wilayah mereka terdiri dari ragam latar geografis juga. Ada daerah gurun pasir di sana. Ada daerah kering. Ada daerah pegunungan. Ada daerah dekat pantai. Ada daerah yang kaya sungai. Dan lain sebagainya. Dalam teori perkembangan bahasa. Hal semacam ini sangat mempengaruhi perbedaan bahasa. Apalagi dulunya manusia hanya sedikit. Tentu bahasa yang banyak terkait dengan perkembangan dan persebaran manusia yang awalnya sedikit tersebut.
Misalnya saja ada satu keluarga yang memiliki beberapa orang anak. Kemudian anak mereka berpencar di berbagai daerah yang berbeda. Pada perkembangannya, bahasa mereka akan berubah sesuai dengan pengaruh pribadi mereka misalnya pada cara individu mengucap suatu kata. Juga pada lingkungan mereka yang menyebabkan terbentuknya kata-kata baru. Yang kemudian berbeda dengan kata baru yang ditemukan di daerah lainnya.
Belajar Bahasa Mandarin
Jadi bahasa Mandarin itu adalah bahasa nasional. Bahasa pemersatu. Yang baru diciptakan kemudian setelah peradaban lebih modern. Sehingga bisa jadi pula ada orang daerah tertentu di negara mereka yang tidak bisa berbahasa Mandarin. Misalnya mereka yang terbiasa sedari kecil hanya memakai bahasa sukunya saja. Seperti ada pula orang di negara Indonesia yang tidak bisa berbahasa Indonesia.

Bahasa Mandarin kemudian telah mengalami penggubahan. Pertama bahasa Mandarin menggunakan huruf tradisional yang sangat kompleks. Satu huruf bahasa mandarin hanya bisa digambar dalam waktu yang lama. Menggambarnya pun tidak mudah. Karena setiap goresan harus ditulis sesuai dengan kaidah. Contohnya saja, membuat sebuah garis horizontal tidak boleh sembarangan, tidak boleh dari kanan ke kiri. Harus dari kiri ke nanan. 

Satu huruf juga bisa terdiri dari begitu banyak garis. Banyaknya garis ini semakin membuat satu huruf saja susah diselesaikan. Huruf-huruf menjadi sulit dipelajari dan sulit dihafalkan. Yang mampu menulisnya hanya orang-orang tertentu saja. Menulis huruf mandari bahkan menjadi suatu seni yang sulit untuk dikuasai. Hal ini menjadikan bahasa Mandarin sebagai bahasa nasional susah untuk diterapkan. 

Akhirnya dilakukan penyederhanaan. Setiap huruf telah disederhanakan. Setiap huruf telah memiliki jumlah garis yang tidak sebanyak dan sekompleks dulu yang versi pertama. Sehingga huruf bahasa Mandarin menjadi mudah untuk dipelajari. Lebih mudah untuk ditulis dan dihafal oleh banyak orang. Huruf-huruf ini yang banyak digunakan sekarang. Dan untuk memudahkan pelajar, bahasa Mandarin juga ada versi huruf latinnya. contohnya kata Lǎo shi. Ini kata dalam bahasa mandarin tapi huruf latin.

Kemudian Lǎo shi memberi kami dua buah buku. Ada buku percakapan. Buku tersebut berisi beberapa kalimat sederhana yang paling sering digunakan dalam percakapan sehari-hari. Seperti salam ketika bertemu. Percakapan tentang perkenalan satu sama lain. Percakapan sehari-hari tentang makanan. Dan percakapan sederhana harian lainnya. Lǎo shi mengajarkan kami dengan membaca percakapan tersebut. Ada huruf mandarinnya dan juga ada huruf latinnya.
Satu lagi buku kamus bergambar. Aku suka kamus ini. Suka karena ada gambarnya. Ada kata dalam bahasa mandarin juga ada kata dalam bahasa inggrisnya. Ada juga bahasa Indonesianya. Ada huruf mandarin dan huruf latinnya juga. Kamusnya tebal. Kata Lǎo shi jumlah kata dalam bahasa mandarin itu banyak banget. Jauh lebih banyak dari kata yang harus dihafal dalam bahasa Inggris. Jadi kalau mau lancar berkomunikasi dalam bahasa mandarin, harus banyak menghafal kosa kata.

Untuk melatih keterampilan menulis huruf, kami diminta membeli buku kotak. Buku khusus latihan menulis huruf mandarin. Di salah satu pasar di tempat tinggal ku ada toko alat tulis milik orang Tiongkok. Lǎo shi bilang ada jualannya di sana. Aku pun membeli beberapa buku untuk latihan menulis. Sambil nulis bagusnya sambil menghafal huruf tersebut. Biasanya Lǎo shi memberi pekerjaan rumah hanya beberapa huruf saja. Satu huruf bisa ditulis dalam tiga halaman. Benar-benar perjuangan kalau mau bisa bahasa Mandarin.

Tiga bulan ku lalui mempelajari bahasa ini. Kata yang bisa ku hafal sangat sedikit. Ayahku bertanya, "Sudah bisa ngomong kalau ketemu orang Tiongkok?" Aku cuma cengar cengir dan bilang, "Kayaknya ga bisa." Bahasa Mandarin ternyata susah juga. Belajar hurufnya aja susah. Belum lagi menghafal banyak kosa kata. Belum lagi belajar pengucapan yang tepat. Kursus tiga bulan itu nyatanya hanya untuk perkenalan dengan bahasa ini saja.

0 Response to "Belajar Bahasa Mandarin"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel