Aku dan Radio

cerita tentang radio

Waktu itu aku kelas dua sekolah dasar. Aku sedang tertarik dengan program siaran radio. Awalnya, suatu malam aku tak sengaja mendengar ada drama di radio. Drama tentang cerita rakyat. Seru sekali mendengarnya. Saat itu radio berada di ruang makan. Tak ada seorang pun di sana. Nenekku yang menghidupkan radio itu. Lalu beliau tinggalkan sebentar mungkin. Mendengar drama yang semakin seru, aku kemudian duduk di kursi makan. Duduk untuk mendengarkan program radio itu sampai selesai. Aku hanya sendirian.

Sejak saat itu aku tertarik dengan radio. Aku suka mendengarkan suara-suara dari sana. Ada suara berita yang mengabarkan tentang berbagai informasi dari berbagai daerah. Ada pula lagu-lagu. Kemudian yang menjadi favoritku juga adalah suara azan. Enak sekali mendengarkan suara azan di radio itu. Suara azan yang juga menjadi sangat ditunggu di kala Ramadhan. Saat Ramadhan, di waktu menjelang berbuka, kami sekeluarga biasanya duduk di meja makan dan menyimak radio. Menunggu kumandang azan dari sana. 

Pernah suatu hari, kumandang azan terasa lama sekali belum datang. Suasana semakin gelap. Rasa lapar semakin parah. Karena penasaran, ayah akhirnya keluar rumah mencoba mendengar suara azan dari masjid yang mungkin saja akan terdengar. Namun tak ada juga. Kebetulan ada tetangga yang lewat. Ayah bertanya kepada orangnya apakah sudah azan atau belum. Ternyata ia menjawab sudah lama azan berkumandang. 

Ayah langsung berlari ke ruang makan dan memberitahukan kami. Kami pun segera berbuka puasa. Setelah itu ayah melihat radio. Ternyata kami salah memilih program daerah. Program daerah yang diputar aku lupa persisnya. Yang jelas bukan daerah lokal kami. Daerah yang jauh yang waktu azannya jauh berbeda. Kami saling pandang dan tertawa.

Besoknya pembahasan radio berlanjut. Ayah bercerita dahulu saat ayah masih kecil. Radio adalah produk baru. Masih menjadi barang langka. Di desa ayah ada seseorang yang membeli radio. Setiap ia lewat selalu terdengar suara lagu-lagu. Ia membawa radio tersebut kemana pun ia pergi. Suatu waktu ada seseorang yang sangat menginginkan radio. Ia mengumpulkan uang untuk membeli radio. Ia hanya ingin bisa mendengar lagu-lagu yang ia dengar dari orang yang selalu membawa radio kemana-mana di desa.

Setelah beberapa waktu, ia berhasil mengumpulkan uang. Ia membeli radio dengan penuh semangat. Ia kemudian pulang ke rumahnya setelah membeli radio. Ia mencoba menghidupkan radionya. Namun, ia menjadi marah. Karena begitu radionya hidup, yang terdengar bukanlah lagu-lagu yang ia suka. Melainkan berita. Ia memukul radio tersebut meminta pada radio untuk memutarkan lagu kesukaannya. Namun tetap saja suara berita yang terdengar. Ia kemudian membuang radio tersebut.

Lalu ayahku tertawa riang sekali. Ibu pun juga tertawa mendengar cerita ayah. Aku geleng-geleng kepala membayangkan kelakuan orang itu. Ada-ada saja cerita aneh di masa transisi. Di masa dimana teknologi baru-baru bermunculan. Produk baru memang kadang mengejutkan masyarakat. Wajar saja, karena tidak tahu tentang produk itu sebelumnya. Orang lain pun banyak yang tidak tahu. Masa dimana harus banyak sekali belajar.

Radio yang aku suka sudah berbeda. Karena aku lahir dimana radio bukan lagi menjadi barang asing. Waktu itu aku tinggal di desa perkebunan kopi. Hampir setiap petani membawa radio sebagai teman di kebun. Apalagi kalau petani yang sedang di kebun sendiri. Radio sangat membantu untuk meramaikan suasana. Menghilangkan sepi dan kantuk. Radio menjadi hiburan favorit orang-orang di kebun sepertinya.

Begitu pun denganku. Radio menjadi favoritku. Aku suka duduk menghadap radio dan mengotak-atik radio. Memindahkan ke saluran-saluran channel lain. Aku ingin tahu ada siaran tentang apa saja. Ada channel apa saja. Dari daerah mana saja. Apakaha ada channel dari luar negeri atau tidak. Aku kadang berusaha menghafal frequensi channel yang ada. Kemudian apa saja program yang ada di channel tersebut. Aku juga ingin memiliki radio pribadi. Sehingga bisa selalu ku dengar.

Saat aku meninggalkan desa perkebunan kopi, aku sedih karena juga meninggalkan radio. Untungnya ternyata ayah kemudian juga membeli radio. Radionyanya besar. Juga bisa untuk memutar kaset lagu-lagu. Tape recorder sepertinya lebih tepat. Tape recorder yang ada radionya. Aku malah punya hobi baru. Yaitu beli kaset kosong dan mereka drama ku sendiri. Aku dibantu oleh dua adikku yang bersedia menjadi aktor-aktor juga di drama karanganku itu. 

Beberapa tahun berlalu dengan kebiasaan mereka drama di kaset kosong. Sampai akhirnya adik-adikku sudah besar dan tak mau lagi merekan drama seperti itu. Seorang adikku suka berbagai jenis olah raga. Seorangnya lagi penyuka sepak bola dan futsal. Aku tak lagi merekam di kaset kosong. Hanya mendengarkan radio saja. Pada waktu itu kebetulan sekali aku sekelas dengan banyak penggemar radio.

Baca juga: Do You Like Music?

Beberapa teman sekelasku bahkan rela bolak balik ke stasiun penyiaran radio demi beli atensi request lagu. Pihak stasiun radio menjual atensi untuk request lagu yang akan diputarkan di program mendengarkan lagu request dari pendengar setia saat malam harinya. Jadi mereka sepulang sekolah datang kesana beli atensinya. Besok pagi dibawa ke sekolah. Di kelas pada diskusi dengan teman-teman lain mau request apa saja. Atensi yang dibeli banyak. Sekalian di sana juga bisa menyampaikan pesan untuk seseorang atau beberapa orang begitu.

Kadang pesan yang ditulis untuk leluconan saja. Pesannya pun untuk teman yang ada di kelas yang sama. Kadang berpesan untuk saling menyemangati dalam belajar. Misalnya, "Ayo semangat ngerjain PR nya!" Begitulah keseruan kelas kami waktu itu. Aku pun memang suka belajar sambil mendengarkan radio. Supaya ga gampang ngantuk. Apalagi waktu itu kami selalu banyak pekerjaan rumah yag harus diselesaikan. 


Pernah radio di rumahku rusak. Sewaktu dihidupkan tak terdengar suara apa-apa. Kata ayah mungkin ada kabel yang digigit tikus. Aku lalu membongkar radionya. Memang ada kabel yang putus. Ada bekas gigitan juga di sana. Kabel ku sambung lagi. Radio pun bisa hidup dan bersuara lagi. Tapi aku ga bisa menutupnya dengan sempurna. Radio itu menerima beberapa tempelan lakban. Kalau dilihat radio itu memang seperti sudah lelah dan minta pensiun. Aku mulai berpikir untuk membeli radio baru.

Aku berusaha mengumpulkan uang. Setelah beberapa waktu uangnya baru terkumpul. Begitu aku datang ke toko elektronik, dan menanyakan radio, pemilik toko malah bertanya, "Kenapa ga beli handphone aja, dek?" Aku kaget dan tersadar, "Oh iya juga ya" bisikku dalam hati. Tapi aku sudah meniatan mau beli radio mini. Salah satu impian ku sejak lama. Aku juga mau punya radio pribadi. Dari uangku sendiri. Lagian uangku belum cukup untuk membeli handphone.

Pemilik toko itu berkata lagi, "Sudah lama ga ada yang beli radio. Radio yang ada ini radio lama semua. Sekarang kan orang-orang dengar radio ya dari handphone. Sekalian beli handphone ada radio juga. Lebih praktis dan fleksibel. Jaman sudah modern kini. Gimana, masih mau radio?"

Aku menjawab, "Iya aku mau beli ini. Gapapa. Aku memang mau beli."

Radio itu pun ia jual. Aku membawa radio itu pulang ke rumah dengan hati riang. Aku selalu mendengarkan radi setiap malam. Radio yang lama sudah total rusak pada akhirnya. Setelah beberapa bulan aku menggunakan radio yang ku beli, radio itu rusak juga. Ternyata beneran produk lama banget kayaknya. Jadi sudah kelamaan di toko. Lalu gampang rusak walau masih baru di tanganku. Tapi aku ga nyesal belinya. Karena harganya ga fantastis. Dan itu memang impianku. Aku pun sempat memakainya.

Kemudian aku mengumpulkan uang lagi untuk membeli handphone. Jaman memang terus berubah. Kebutuhan hidup terus berubah pula sesuai dengan jamannya. Setalah handphone akhirnya ku beli. Aku tetap rajin mendengarkan radio. Radio di handphone ternyata lebih jernih suaranya. Channel yang ditangkap juga lebih banyak. Handphone juga lebih fleksibel. Bisa diletakkan di saku dan dibawa kemana saja.


Siaran yang paling aku suka pada waktu itu adalah siaran dari jepang, NHK. Siaran ini sepertinya menumpang. Ada channel radio lokal yang bekerjasama dengan NHK sepertinya. Siaran NHK hanya terdengar satu jam setiap malamnya. Dari pukul sembilan sampai pukul sepuluh malam. Aku suka menunggu-nunggu siarannya. Yang paling aku suka adalah program lagenda atau cerita rakyat dari Jepang. Lalu juga informasi mengenani negara Jepang.

Selanjutnya yang aku suka adalah siaran RRI Pro 3. Aku merasa mendengar berita di RRI Pro 3 sepertinya lebih valid daripada melihat berita di televisi. Aku juga salut dengan siaran RRI Pro 3 yang selalu di udara selama 24 jam. Aku jadi bisa dengar berita atau mendapatkan informasi-informasi walau di tengah malam atau dini hari. Sekalian juga bisa jadi teman kalau susah tidur.

Sayangnya siaran RRI Pro 3 ternyata ga menjangkau seluruh daerah di Indonesia. Dulunya aku pikir pasti ada siaran RRI Pro 3 dimana pun karena punya pemerintah. Ternyata mungkin karena kendala luasnya wilayah Indonesia. Pernah aku di NTT, tak adapat siaran RRI Pro 3 dan aku sedih banget. Pernah juga waktu KKN di perbatasan Sumatera Selatan dan Jambi, tak pula dapat siaran RRI Pro 3. Dan kini aku di Tanjung Enim, tak pula dapat siaran RRI Pro 3.

Cerita tentang Pengalaman dengan Radio
Kemudian, aku ingat kalau sekarang jamannya internet. Pasti ada aplikasinya pikirku. Aku lalu cari aplikasi RRI di play store. Setelah di-download kok agak ga lancar juga programnya. Aku cari lagi aplikasi radio yang internasional. Ada aplikasi tunln radio. Aplikasi yang menyediakan radio channel dari berbagai daerah di Indonesia maupun dunia. Ada RRI Pro 3 di sana. Syukurlah lancar jaya. Selain itu ada channnel dari berbagai bahasa yang bagus-bagus. Bisa juga dijadikan sarana belajar bahasa Inggris.

Banyak channel berbahasa Inggris. Banyak channel berita ada juga channnel belajar. Ada channel khusus cerita anak. Aku sudah dengar beberapa. Seru banget. Ada channel yang ku coba dengarkan juga menyajikan komedi-komedi. Ada juga yang seperti bincang-bincang. Aplikasi ini free. Tapi ada juga tawaran untuk versi pro. Aku pakai yang free aja sudah banyak banget siaran yang bisa didengarkan. Kita bisa pilih atau cari siaran radio berdasarkan bahasa, lokasi, topik, trending, dan jenis radinya apakah radio khusus musik, olahraga, berita, dan bincang-bincang.

0 Response to "Aku dan Radio"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel