Umroh dulu atau Haji dulu

cerita tentang pilihan berhaji dan umroh

Kami sedang duduk-duduk di kantin Pak Haji. Suasana sangat sepi. Hanya ada kami bertiga, aku, Ibu Mia, dan Eva. Kami sedang ada waktu senggang jadi bisa meninggalkan kantor sebentar. Kami berencana mau beli mie rebus di kantin Pak Haji. Tapi kami duduk-duduk dulu. Lantas saling bercerita tentang banyak hal. Terutama tentang budaya. Kami berasal dari tiga budaya yang berbeda. Aku berasal dari Sumatera. Ibu Mia dari Indonesia bagian Timur. Dan Eva berasal dari Jawa. 

Sampai kami akhirnya tersebut tentang kemudahan naik haji di Indonesia bagian Timur. Mungkin karena muslim sangat minor di sana. Sehingga kuota untuk jamaah hajinya lebih luang. Jadi asalkan punya uang berlebih, kita bisa saja naik haji setiap tahun. Sangat jauh berbeda dengan di tempat asalku. Setahuku harus mengantri bahkan sampai belasan tahun. 

"Pak Haji ini naik haji setiap tahun. Dia orang kaya, Bu Nina." cerita Ibu Mia. 

Aku terdiam teringat ayah ibuku yang sangat mengidamkan naik haji. Namun naik haji di tempat kami tak semudah naik haji di sini pikirku. Ibu Mia lanjut menceritakan kekayaan Pak Haji.

Baca juga: Toleransi di Sekolah Yayasan Pendidikan Islam Babussalam

"Bahkan Pak Haji sering berlebaran di Arab."

"Woah! keren! itu mah kaya banget, Bu." kata ku spontan.

"Iya, Bu. Memang kaya." sambut Eva.

Dalam hatiku, 'Ga nyangka beliau sekaya itu. Rumah beliau bahkan berlantaikan tanah. Dan rumahnya sangatlah kecil. Mungkin beliau memang tidak memprioritaskan kemegahan dunia. Tapi beliau memprioritaskan ibadah-ibadah. Yah sebenarnya memang setiap orang memiliki prioritas yang berbeda-beda.'

cerita tentang pilihan berhaji dan umroh

Ada orang yang memperioritaskan pendidikan. Rumah, kendaraan, makanan tidak dipedulikan amat. Yang penting anak-anak memiliki pendidikan terbaik. Disekolahkan di sekolah sekolah terbaik dan termahal. Bahkan sampai ke luar negeri dibiayai. Namun rumah, kendaraan, dan makanan sehari-harinya diikhlaskannya sangat sederhana.

Ada pula yang memprioritaskan pembangunan rumahnya. Memiliki rumah yang megah. Selalu ada renovasi setiap tahunnya. Banyak uang habis untuk mendapatkan rumah yang indah sesuai keinginan. Berikut memiliki kendaraan impian yang sangat mahal. Namun sehari-hari tidak mempedulikan makanan. Makanan sangat sederhana bahkan tidak mencukupi nutrisi juga tidak mengapa. 

Banyak sekali ragam prioritas orang dalam menggunakan uang. Dalam menjalani hidup. Setiap orang memiliki prinsip hidup masing-masing. Dulu, aku adalah orang yang memprioritaskan ilmu. Aku rela ga ganti-ganti baju. Asalkan bisa beli buku baru dan dapat ilmu baru. Pakai celana sobek juga aku biasa saja. Aku tidak peduli dengan apa yang teman-temanku pikirkan ketika melihatku memakai pakaianku yang selalu lusuh. Tapi itu dulu. Sekarang tak begitu.

Sejenak aku berpikir bagaimana dengan ku. Apakah aku ingin naik haji setiap tahun juga. Tapi tentu saja tidak bisa kalau aku tetap berdomisili di daerah asalku. Aku hanya satu tahun di sini. Di Indonesia bagian Timur ini. Selebihnya aku akan kembali ke tempat asalku di Indonesia bagian Barat. Kalau pun ada uang dan bisa mendaftar. Maka waktu tunggu nya sangat lama. Itulah yang ada dalam pikiranku. 

Baca juga: Cara Mencapai Mimpi

Tapi bagaimana kalau umroh dulu? Kalau saja sudah mendaftar haji. Dan tinggal menunggu berangkat saja. Sedangkan waktu tunggunya masih lama. Dan masih banyak uang. Tentu saja aku mau umroh dulu. Karena belum tentu umurku sampai di saat waktu haji itu tiba. Tidak ada yang bisa memastikan kapan ajal ku datang. Bisa saja besok lusa aku hanya tinggal kenangan.

Sesi ngobrol kami pun selesai. Kami mulai untuk menyiapkan makan. "Di kantin Pak Haji ini, mkananannya masak sendiri, Bu." Ibu Mia memberitahuku.. "ooo begitu.." aku pun langsung mengikuti Ibu Mia dan Eva menyiapkan makanan. Kami menyiapkan untuk memasak mie rebus. Lalu kami bersantap bersama. 

cerita tentang pilihan berhaji dan umroh

Usut punya usut ternyata Pak Haji adalah pengusaha. Beliau memiliki beberapa toko di pasar. Dan penjualannya sangat lancar. Beliau memiliki usaha sekala besar. Wajar saja uangnya banyak. Memang pengusaha seperti itu berkesempatan menjadi kaya. Tapi entah mengapa aku kurang tertarik berdagang. Aku lebih suka menjadi guru.

Iseng kemudian aku bertanya dengan Eva, "Kalau kamu, Va. Pilih Haji atau umroh dulu?"

"Saya tergantung suami, Bu. Saya ikut saja apa kata suami." jawab Eva santai.

"Sama" sambutku.

Kami pun tersenyum.

0 Response to "Umroh dulu atau Haji dulu"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel