Home » » Timor Tengah Utara (TTU)

Timor Tengah Utara (TTU)

Posted by cuapguru on Monday, February 26, 2018

Tak pernah saya menyangka sebelumnya. Saya akan menginjakkan kaki di Kabupaten perbatasan Indonesia- Timor Leste ini. Sewaktu mendaftar program SM3T (Sarjana Mendidik di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal), kabupaten Timor Tengah Utara belum menjadi daerah sasaran penempatan guru SM3T.

Saya ingat sekali, sewaktu pertama saya tahu saya ditempatkan di Timor Tengah Utara (TTU) yang saya rasakan adalah suatu keanehan. Aneh karena saya merasa tidak tahu sama sekali bahwa di Indonesia Raya ini ada kabupaten bernama ini.

Saya belum bisa membayangkan apa- apa. Sampai saya dan beberapa teman yang di tempatkan di sana juga, berkumpul dan sama- sama mencari tahu tentang TTU via google.

Yang kami ketahui pertama adalah terkenalnya daerah ini dengan jagung. Kata berita di google itu, masyarakat TTU makanan pokoknya adalah jagung. Selain itu TTU juga terkenal dengan buah asam, pinang serta kapur sirih, minyak kayu putih, cendana, kain tenun, dan rumah dari pelepah lontar.

Mayoritas masyarakat TTU beragama katolik. Kabarnya muslim sangat sedikit di sana. Kami pun ternyata sedikit diliputi kekhawatiran. Budaya masyarakat TTU gemar minum sofi (minuman berakohol dari daun lontar) dan suka berdansa juga sedikit membuat kami berpikir panjang. Beberapa dari kami bahkan sudah mulai belajar cara menolak jika ditawari minum sofi atau jika ditawari dansa.

Alam TTU katanya sangat kering. Hujan sangat jarang turun di sana. Pepohonan kehilangan daunnya. Sungai kehilangan airnya. Di kabupaten TTU air kebutuhan sehari- hari kadang harus dibeli.

TTU tanahnya tanah kapur. Air di sana warnanya sedikit keruh putih karena kapur. Kabarnya tanah pulau Timor itu memang karang. Dan TTU itu tepat ada di daerah keringnya. Ada soalnya daerah disana yang subur seperti daerah pegunungan. Tapi hanya di beberapa wilayah.

Hidup di TTU itu keras. Sumber penghasilan masyarakat sangat sedikit. Karena alam nya yang kurang mendukung. Masyrakat kebanyakan tidak punya sumber penghasilan yang stabil. Hanya sekadar memungut buah asam atau mengumpulkan kayu bakar yang tidak seberapa.

Jika musim hujan tiba, masyarakat akan bertanam jagung. Itu pun tidak seberapa hasilnya. Hanya cukup untuk kebutuhan makan keluarga. Jagung yang mereka tanam tidak di tanam dalam jumlah besar dengan niat untuk dagang. Jagung ditanam hanya untuk makan keluarga masing- masing.

Masyarakat memiliki lumbung hasil panen. Jika selesai masa panen, maka hasil panen akan disimpan untuk persediaan makan sampai tiba musim berikutnya. Untuk sayur- sayuran lain atau pun buah dan beras dan bumbu ada di datangkan dari kabupaten tetangga. Namun, karena jumlah hasil panen di sana memang sedikit maka harganya pun mahal.

Pernah teman saya membeli buah pepaya harganya Rp 20.000,-. Itu pun hanya setengah buah. Itu sudah mereka katakan murah. Semangka kecil ukuran sekilo pernah saya tanya, ternyata harga nya Rp. 40.000,-. Ada pernah orang jual durian harganya sebuah Rp. 350.000,-. Pakaian, dan perabot rumah tangga pun, sangat mahal di sana. Saya ada membeli kompor kecil untuk bahan bakar minyak tanah di sana, ukurannnya yang paling kecil, harganya Rp. 400.000,-. Yang murah di sana adalah daging. Rp 500.000 saja sudah dapat seekor kambing. Dan harga 4jt sudah bisa dapat sapi.

Mengenai perbatasan negara, di TTU ada tiga titik perbatasan negara. Satu, di Napan. Dua, di Haumeniana. Tiga, di Wini. Napan adalah perbatasan biasa dan dijaga oleh TNI penjaga perbatasan. Haumeniana yang unik. Disini ada pasar gabungan dua negara. Pasar International Haumeniana. Di pasar ini mata uang Indonesia dan Timor leste berlaku secara resmi. Penjual dan pembeli adalah gabungan dari dua negara. Pembelinya tentu saja warga masyarakat di sekitaran perbatasan.

Uniknya lagi, di perbatasan ini ada sekolah. Yang bahkan warga Timor Leste ada bersekolah di sana. Dan perbatasan Haumeniana ini tergolong ramai. Seperti titik kumpul perumahan masyarakat. Di Haumeni ana inilah sebuah jalan kecil membatasi dua negara. Dimana rumah yang bersebrangan itu sudah berbeda negara.

Satu lagi perbatasan di Wini. Wini adalah daerah wisata. Disana terkenal dengan pantainya yang indah, Pantai Wini dan Pantai Tanjung Bastian.  juga ada arena pacu kuda yang biasa diselenggarakan tahunan di setiap bulan Agustus. Di wini inilah tempat wisata perbatasan. Karena dekat dengan pantai wisata dan dekat dengan pelabuhan.

TTU adalah kabupaten yang berasal dari gabungan tiga kerajaan, kerajaan Miomafo, Biinmafo, dan Insana. Icon TTU adalah patung tiga raja yang ada di depan kantor DPRD nya.

Di kabupaten TTU ada juga Universitas Negeri, yaitu Universitas Timor (UNIMOR). Mahasiswanya banyak berasal dari kabupaten-kabupaten lain di sekitar TTU. Dengan adanya UNIMOR di TTU atau lebih tepatnya di Kefamenanu (ibukota TTU), TTU menjadi kabupaten yang tidak begitu tertinggal. Khususnya Kefamenanu.

Fasilitas di Kefamenanu tergolong lengkap. Kalau melihat kota Kefamenanu atau biasa disebut Kefa ini. Maka rasanya kurang tepat kabupaten TTU digolongkan kabupaten tertinggal. Jalan- jalan di Kefa sangat bagus. Pasarnya ada dua dan lumayan ramai. Di Kefa ada juga Minimarket besar. Ada berbagai hotel dan penginapan. ATM gampang ditemukan. Jarak kota Kefa ke Kupang (ibu kota provinsi NTT) hanya 6 jam dan jalan nya sangat bagus.  

Thanks for reading & sharing cuapguru

Previous
« Prev Post

1 komentar:

  1. Unforgetable journey to the east of indonesia, kind people, beautiful nature with savana and different weather, east indonesia also clean from industrial polution...

    ReplyDelete

IBX5AB59D2A8A617

Search This Blog

Follow by Email