IBX5AB59D2A8A617
Home » » Mengenang Kisah SM3T

Mengenang Kisah SM3T

Posted by cuapguru on Friday, September 14, 2018

SM3T TTU bersama dosen UNP di Kefamenanu, TTU, NTT. Photo by: SM3T TTU UNP
Saya adalah salah satu dari 3.140 orang yang diterima untuk mejadi guru di program SM3T tahun 2015. Dan tepatnya, salah satu dari 264 orang yang lolos melalui Universitas Negeri Padang. Ketika itu, proses panjang saya ikuti untuk menjadi seorang guru di program SM3T. Dari ikut tes seleksi administrasi, lalu tes tertulis online, dan pada akhirnya ikut tes wawancara dan terpilih menjadi salah satu orang yang beruntung.

Tanggal 31 Juli 2015, dengan satu tas jinjing besar dan sebuah ransel hitam saya berangkat dari Bengkulu ke Padang. Sampai di Padang tanggal 1 Agustus, saya menginap di Penginapan Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan Sumatera Barat. Tanggal 2 Agustus barulah kami berkumpul di rektorat UNP untuk mendapatkan pengarahan kegiatan prakondisi dan pengumuman lokasi penempatan. Saya ditakdirkan mengajar di kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), NTT. Sebuah kabupaten di timur Indonesia yang belum saya ketahui sama sekali sebelumnya. 

Tanggal 3-12 Agustus kami mengikuti pembekalan pra penempatan indoor di hotel New Rasaki. Pada saat itulah kami 21 orang yang akan bertugas ke TTU bertemu dan berkumpul dan saling berkenalan. Kami berasal dari daerah, jurusan, bahkan universitas dang angkatan kuliah yang berbeda-beda. Diantara 21 orang dari kami ada 10 orang laki-laki dan 11 orang perempuan.

Gemmilang Surya (Guru Elektro)
Khairul Hadi (Guru Penjaskesrek)
Wiliandi (Guru Penjaskesrek)
Febbry (Guru Penjaskesrek)
Redi Karmade (Guru Penjaskesrek)
Ridwan Lubis (Guru Bimbingan Konseling)
Alif (Guru Sosiologi)
M. Arssyad (Guru Seni Rupa)
Arif (Guru Penjaskesrek)
Rahmadani (Guru Penjaskesrek)
Ayu Mefi Wahyuni (Guru Kewarganegaraan)
Samsidar Manik (Guru Matematika)
Mega (Guru Geografi)
Arnisah Putri (Guru Kimia)
Sandy Mareta (Guru Sosiologi)
Eka Pratama (Guru Bimbingan Konseling)
Nita Arlan sari (Guru Tata Boga)
Maria Kristiana (Guru Ekonomi)
Lona Putri (Guru Bimbingan Konseling)
Maya Rismawanti (Guru Bahasa Inggris)
Nina Mustika (Guru Bahasa Inggris)

Selama prakondisi indoor kami diberi pembekalan berupa materi pengajaran dan materi sosial kemasyarakatan. Materi cukup padat, dari jam 8 pagi sampai jam 6 sore kami duduk mendengarkan materi di aula. Bahkan terkadang sampai malam hari. Di hari terakhir prakondisi indoor kami di tes cara mengajar. 

Tanggal 13-17 Agustus kami berkemah, mengikuti pembekalan outdoor di Bumi Perkemahan di Lubuk Minturun. Kami mendapatkan pembekalan fisik dan mental. Serta pembekalan tentang kesehatan dan juga bela negara. Kegiatan yang paling berkesan bagi saya adalah hiking karena medannya lumayan berat dan panjang.

Pada tanggal 20 Agustus 2015, saya dan rombongan berangkat menuju NTT. Kami sudah berada di Bandara Internasional Minangkabau (BIM) pukul 11 pagi. Dan kami berangkat sekitar pukul 12 siang. Pesawat transit di Jakarta sekitar pukul 14 siang, lalu transit di Surabaya sekitar pukul 18 sore. Dan barulah kami sampai di Kupang pada pukul 9 malam. Ini merupakan perjalanan dengan pesawat terlama yang pernah saya lakukan. Telinga saya terasa sangat sakit. 

Selama perjalanan di atas pesawat itu saya sangat berkesan dengan lagu Ayam Den Lapeh yang tak diganti-ganti dari kami berangkat di Padang. Kebetulan Pesawatnya memang tidak berganti-ganti. Dan susunan tempat duduk kami juga tidak berganti. Saya duduk bersama Samsidar dan Sandy. Di atas langit Kupang untuk pertama kalinya saya merasakan haru karena berada di atas langit yang jauh dari Kampung Halaman. Memang ini masih di Indonesia. Tapi rasanya sangat berbeda.

Begitu turun kami langsung di sambut dengan roda waktu yang pun juga sangat berbeda. Kami langsung mengganti zona waktu baik di jam tangan maupun di perangkat handphone. Saya pribadi merasa seperti berada di dunia lain. Saya melihat tumbuhan yang kering, tanah yang gersang. Dan suasana yang terasa sangat sepi. Malam itu kami akhirnya menginap di sebuah penginapan di Kupang. 

Tanggal 21 Agustus, jam 6 pagi, kami lanjut berangkat ke kabupaten TTU. Jarak antara Kota Kupang dengan Kabupaten TTU sekitar 210 km. Biasanya sekitar enam jam naik bus dengan kecepatan sedang. Di perjalanan menuju TTU mulailah tampak kekhasan dari Timor. Lagu-lagu yang terdengar dengan bahsa Ambon, kemudian saya melihat pepohonan yang nyaris tak berdaun. Tanah yang terlihat putih bagaikan kapur. Dan rumah-rumah yang terbuat dari pelepah daun lontar. Saya kemudian tertidur. Dan sampai di TTU kami menginap di suatu penginapan di sana. 

Tanggal 22 Agustus, kami berada di Dinas Pendidikan. Nama kami telah tertulis di kertas yang menunjukkan penempatan masing-masing. Kami pun satu per satu terpisah.  Ada yang beruntung dapat bertugas dua orang satu sekolah. Ada yang satu sekolah di sendiri. Ada yang bahkan satu desa dia sendiri. Kami tampaknya sudah mulai menjalani hidup baru. Dan kami harus berjuang di jalan kami masing-masing.
photo by: Nita Arlan Sari
Tentang penempatan tugas, saya pribadi melihat pembagian lokasi ini sangat menampakkan perbedaan takdir dan keberuntungan. Ada yang nyatanya mendapat tugas di sekolah yang modern dan maju di tengah kota.  Ada yang mendapat tugas di sekolah yang memang sangat memprihatinkan dan di desa pelosok. Ada yang di desanya bertugas hanya dia sendiri yang muslim. Ada yang dapat sekolah yang beruang sehingga ia bisa banyak menabung. Ada yang dapat sekolah yang minim dana sehingga bahkan ia harus mengeluarkan biaya pribadi untuk kepentingan sekolah.

Ada teman yang mendapat tugas di desa yang tidak ada listrik dan sangat sulit mendapatkan air. Saya sangat tertarik pada awalnya untuk berkunjung ke tempat nya bertugas. Namun ternyata kemudian ada banyak kendala dan kondisi yang tidak memungkinkan. Saya merasa sangat bersalah karena itu pertama kalinya saya tidak berhasil menepati janji.

Terkadang, dalam suatu perjalanan yang lama dan jauh. Orang-orang berubah. Ada pepatah yang menyebutkan bahwa sifat asli seseorang akan muncul dalam sebuah perjalanan. Namun saya pribadi merupakan orang yang tidak sepakat dengan pernyataan itu. Karena menurut pendapat saya, sifat asli seseorang muncul disaat mukim, atau setelah lama menetap di suatu tempat. 

Saat dalam perjalanan, ada banyak tekanan. Baik peruhanan alam maupun perubahan fisik tentu menambah tingkatan stress yang menyebabkan perubahan sifat dan sikap. Saya banyak melihat perubahan seperti ini dikarenakan keresahan, ketidakmampuan fisik dalam percepatan penyesuaian alam, dan berikut juga dengan mental seseorang. Saya rasanya tidak suka menyarankan orang untuk berpergian. Lebih baik menetap dan hidup dalam damai.

Omong-omong, budaya TTU mengingatkan saya dengan budaya eropa. Bukan karena saya pernah ke eropa. Tapi karena saya beberapa kali membaca novel terjemahan yang menceritakan kehidupan keseharian di eropa sana. Mungkin juga karena latar pendidikan saya yang ada pelajaran sastra inggrisnya. Betapa bangunan-bangunan, gereja-gereja, pastur dan suster-suster, serta orang-orang di TTU memperlihatkan budaya eropa yang kental. Terlebih dansa yang merupakan budaya Portugis yang memang pernah menguasai daratan Timor. Sangat mengingatkan saya dengan budaya eropa. Kadang saya merasa seperti sedang di eropa namun dalam novel saya sendiri.

Masyarakat TTU sangatlah ramah. Setiap bertemu walau tak kenal akan saling menyapa. "Selamat, pagi, bu". "Selamat, siang." kadang sapaan ini terasa sangat manis di dalam hati. Pernah suatu pagi saya disapa rombongan anak-anak sekolah dasar yang sedang berjalan kaki beramai-ramai "Selamat, pagi, Bu." Mereka semua tersenyum ramah. Saya pun membalas mereka dengan "Selamat, pagi" dengan senyuman penuh kasih sayang. Saya merasa saya ingin menjadi guru di sekolah anak-anak itu saja.

Dan masa itu telah lama berlalu. Menjadi suatu kenangan yang sangat indah. Kini saya telah berada di kampung halaman. Sampai pagi tanggal 14 September 2018. Saya mendapat kabar bahwa salah satu teman kami, Redi Karmade guru penjaskesrek yang sama-sama ditempatkan di TTU, telah meninggal dunia. Beliau meninggal karena kecelakaan ketika hendak berangkat ke sekolah tempat ia mengajar di Sumatera Barat. Sungguh kehidupan kadang benar-benar tidak terduga. Semoga beliau khusnul khotimah. 

Thanks for reading & sharing cuapguru

Previous
« Prev Post

1 komentar:

  1. Kisah yang membanggakan dan sekaligus mengharukan dimana kita harus kehilangan kawan seperjuangan sebelum kita sukses bersama menjadi GGD yang sampai saat ini belum jelas dimana rimbanya

    ReplyDelete

IBX5AB59D2A8A617

Search This Blog

Follow by Email