Home » » Muslim Minoritas di Indonesia

Muslim Minoritas di Indonesia

Posted by cuapguru on Monday, August 20, 2018

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Apa kabar sahabat cuapguru? Semoga selalu dalam lindungan Allah dan keberkahan. Cuapguru turut berduka atas musibah yang menimpa lombok dan sekitarnya. Semoga mereka di sana diberi kesabaran dan ketegaran. Semoga bantuan lancar. Semoga keadaan di sana bisa segera membaik dan musibah tidak datang lagi. Aamiin Ya Rabbal Alamin.

Omong-omong, kali ini www.cuapguru.com ingin berbagi cerita tentang kehidupan muslim di Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Dimana, saya pernah bertugas di sana. Awalnya saya tidak menyangka ada muslim di sana. Setelah tiba di sana, saya malah dapat tugas di sekolah muslim. 

Saya penasaran bagaimana cara mereka menjalani kehidupan sebagai muslim di daerah yang muslim menjadi minoritas. Saya pun memperhatikan keseharian di sana. Dan tak lupa mencacat beberapa cara mereka menjalani kehidupan di sana. Berikut beberapa hal yang sempat saya catat.

1. MENDIRIKAN SEKOLAH MUSLIM
Meskipun jumlah masyarakat muslim TTU sangat sedikit, mereka memilih untuk mendirikan sekolah muslim. Adalah Yayasan Islam Babusalam mendirikan sekolah Raudhatul Athfal, Madrasah Tsanawiyah Nurul Falah, dan Sekolah Menengah Atas Nurul Falah. Semua sekolah ini berada dalam satu kawasan di dalam satu komplek. Di komplek ini juga ada Madrasah Ibtidaiyah. Tapi Madrasah Ibtidaiyah ini milik pemerintah. 

Untuk pembiayaan, Raudhatul Athfal, Madrasah Tsanawiyah, dan Sekolah Menengah Atas Nurul Falah mengandalkan dana yayasan. Yayasan tersebut didanai oleh pengusaha muslim kaya setempat. Selain mendapatkan guru pegawai negeri dari pemerintah. Yayasan juga memiliki guru tetap yayasan dan guru honor.

2. MENGADAKAN PENGAJIAN RUTIN
Ibu-ibu muslimah di Kefamenanu menyelenggarakan pengajian rutin setiap minggu, setiap minggunya diselengarakan tiga kali di masjid yang berbeda-beda. Di Kefamenanu ada tiga buah masjid, masjid Nurul Falah, masjid Al Mujahidin, dan masjid Al Muhajirin. 

Di pengajian, selain mendengarkan ceramah. Ibu-ibu juga mengadakan latihan shalawatan. Jika ada shalawat yang belum hafal, maka akan dihafalkan bersama-sama.

Dan ternyata, di Kefamenanu juga ada ikatan persatuan para mualaf. Mereka mengadakan pengajian rutin khusus untuk mualaf. Ini menunjukkan semangat mereka dalam mempelajari Islam.

3. MENGADAKAN ARISAN
Masih khusus ibu-ibu. Ibu-ibu muslimah mengadakan kegiatan arisan. Yang seperti biasa diadakan dengan tempat penyelenggaraan yang bergantian. Di kegiatan, sebelum arisan dimulai, ibu-ibu arisan, satu per satu membaca Al Quran secara bergiliran. Saat pembacaan Al Quran oleh seseorang, yang lain mengoreksi bacaan. Ini mereka maksudkan untuk menjaga bacaan Al Quran mereka. 

Setelah semuanya telah membaca Al Quran satu per satu secara bergiliran. Barulah arisan di mulai. Setelah itu makan bersama. Kemudian ditutup dengan doa.

4. PERINGATAN HARI BESAR ISLAM
Hari besar islam tentu saja selalu diselenggrakan dengan meriah. Selain ada acara ceramah oleh ustad yang diundang dari Kupang atau bahkan dari Makasar. Ada juga acara penampilan shalawatan ibu-ibu. Kemudian ada juga penampilan menyanyi atau menari dari anak-anak muslim di Kefamenanu. Selain itu, juga ada jamuan untuk makan bersama.

5. MENDIRIKAN TPA
Tepatnya di masjid kilo empat atau masjid Al Muhajirin. Ada didirikan taman pendidikan Al Quran. Anak- anak muslim di Kefamenanu banyak belajar di TPA ini. TPA ini berada satu kompleks dengan masjid. Dan di sana memang tinggal para pengajar Al Quran nya. Di sana disediakan ruang belajar yang banyak.

Selain TPA resmi seperti itu, ada juga pasangan suami istri yang masih muda. Pak Abdullah dan Ibu Siti Zohra. Mereka membuat kegiatan belajar membaca Al Quran di rumah mereka secara gratis. Mereka mengajar secara sukarela. Banyak juga anak-anak yang belajar di rumah mereka.

Pak Abdullah dan Ibu Siti Zohra adalah guru di sekolah tempat saya bertugas, MTs Nurul Falah. Mereka dari pagi sampai siang mengajar di sana. Siang sampai magrib mengajar di SMA Nurul Falah juga. Kemudian setelah magrib mereka mengajar di TPA yang mereka buat di rumah mereka.

Itulah sedikit cerita tentang muslim minoritas di Indonesia. Khususnya di Kefamenanu, TTU, Nusa Tenggara Timur. 

Thanks for reading & sharing cuapguru

Previous
« Prev Post

1 komentar:

  1. Wah... Walaupun minoritas tapi persatuan yang kuat akan membuat situasi selalu nyaman dan aman, daerah ini daerah yang penuh dengan toleransi, saling menghargai antar umat beragamanya sangat baik, begitulah seharusnya indonesia yang beragam

    ReplyDelete

IBX5AB59D2A8A617

Search This Blog

Follow by Email