IBX5AB59D2A8A617
Home » » Memilih

Memilih

Posted by cuapguru on Tuesday, February 20, 2018

istikharah

Ada sebuah kisah dari perbatasan Republik Kemang- Amor Yafa. Adalah kisah terkait peralihan kewarganegaraan sebagian masyarakat Amor. Dari kewarganegaraan Republik Kemang menjadi kewarganegaraan Amor Yafa. Tercatat kisah di balik jejak pendapat yang difasilitasi pemerintah pusat daripada Republik Kemang. Tentang perjalanan hidup sebuah keluarga di tanah Amor.

Eva, memiliki dua orang kakak perempuan dan mereka tinggal bersama kedua orang tuanya. Mereka memiliki darah asli Serawai yang mengalir di sanubari mereka. Mereka tinggal di tanah Amor atas dasar program transmigrasi dari pemerintah pusat Republik Kemang.

Susah senang mereka menjalani hidup di tanah Amor. Merintis suatu perekonomian keluarga dari nol sampai memiliki berbagai jenis bentuk harta. Mereka hidup bahagia dalam damai. Ada begitu banyak perbedaan adat, budaya, dan kepercayaan. Tapi masyarakat hidup dengan persahabatan yang menentramkan.

Tapi, kisahnya bermula dari penyerangan demi penyerangan yang tiba-tiba saja sering terjadi. Sekelompok pemuda dengan pakaian seperti dari kemiliteran menembaki warga masyarakat. Ketakutan mencekam di penjuru wilayah Amor.

Setiap malam, suara tembakan terdengar seakan sudah di telinga. Tangis dan keputusasaan mulai merasuki jiwa warga masyarakat.

Eva, dua kakaknya, dan kedua orang tuanya telah mendengar pula sebuah kabar angin. Yang mengatakan perihal sebuah kewarganegaraan yang sedang diributkan banyak orang. Katanya, ada yang lelah dengan kewarganegaraan yang lama dan ingin pindah menjadi manusia yang baru.

Simsalabim entah dari mana. Padahal kehidupan selama ini serasa begitu menentramkan bagai taman hati penuh bunga. Pepohonan yang subur karena jiwa bahagia bagaimana bisa ternyata ada yang merasa bersusah payah dan lelah.

Lama hidup dalam mencekam. Akhirnya sampai utusan pemerintah memintah warga masyarakat memilih. Apakah masih ingin hidup sebagai warga Republik Kemang atau ingin memulai dengan kewarganegaraan baru atas nama mendirikan negara sendiri dan menjadi manusia baru.

Jejak pendapat diatur sedemikian rupa supaya tidak menyakiti pihak manapun. Dengan segala upaya kegotong royongan maka terkumpulah sebuah kesimpulan. Republik Kemang disobek. Separuhnya ingin memiliki rasa yang berbeda.

Eva, kedua kakaknya dan kedua orang tuanya memilih Republik Kemang. Dengan konsekuensi mereka terusir dari tanah harta mereka. Yang selama ini telah lama mereka upayakan untuk warisan anak cucu kelak. Tapi apa boleh buat. Apalah artinya harta itu dibanding sebuah jati diri yang sejati.

Memilih Republik Kemang dan kemudian terusir. Karena tanah yang diperebutkan itu telah menjadi negara baru. Maka kapal-kapal layar menjemput mereka ke tanah yang harus diupayakan dahulu dari awal lagi.

Syukurnya mereka masih memiliki bekal harta bersama mereka. Dikira cukup sebagai modal untuk memulai hidup baru. Malah kapal ternyata kemudian karam di tengah jalan. Hingga terdamparlah mereka ke tanah yang baru sebenar benar harus merintis lagi dari nol.

Eva, kedua kakaknya masih bersekolah dasar. Kedua orang tuanya cukup muda untuk memulai dari nol lagi. Dengan melupakan semua kenangan indah bersama kejayaan mereka dahulu.

Mereka kemudian menempati sebuah rumah kosong. Rumah yang besar seperti sebuah rumah orang kaya raya dulunya. Kata penduduk setempat, rumah itu angker. Pemilik rumah itu dulunya tinggal sekeluarga disana. Kemudian mati semuanya tanpa sebab yang diketahui.

Rumah itu sangat kotor tidak terawat. Mereka dengan telaten membersihkan rumah itu. Kemudian tinggal disana. Karena tidak memiliki harta samasekali mereka pun hanya mampu makan rerumputan yang ada di sekitar rumah. Mereka memakan rumput setelah mereka merebusnya di kaleng bekas yang mereka temukan.

Suatu hari, ada seorang yang memberikan uang sedikit karena tak tega melihat keadaan mereka. Uang itu kemudian digunakan sang ibu untuk membeli bahan jualan. Ibu ingin mulai berusaha menjual bubur kacang ijo.

Uang yang sedikit itu ternyata hanya mampu dibelikan dengan segenggam kacang ijo dan sedikit gula. Tapi ibu tetap mengolahnya dan terus hasil jualan diputar setiap harinya sehinggah benih harapan mulai tumbuh di hati mereka.

Mereka hidup sehari hari kemudian dengan mulai bisa mengguratkan sedikit senyuman di wajah mereka. Mereka sudah mulai bisa bercanda tawa. Mereka mulai bisa merasa bangga lagi dengan jiwa mereka. Mereka ingin lagi berjaya.

Kemudian, cermin khayalan terpecah. Terjadi lagi sebuah konflik lanjutan. Pembunuhan dan pembantaian pun tak terhindarkan. Dengan pakaian kemiliteran. Sekelompok pemuda datang menembaki warga masyarakat. Ada yang membawa golok dan menyembelih leher warga masyarakat yang bahkan tak tahu apa salah mereka hingga mereka pantas mendapat perlakuan seperti itu.

Apakah ini karena mereka berbeda dalam memilih kewarganegaraan? Apakah mereka menantang untuk merubah pilihan? Bukankah keputusan telah bulat? Apakah mereka kurang jauh dari tanah perbatasan? Tapi sudah terlalu jauh mereka memindahkan kehidupan mereka. Kenapa masih dikejar?

Eva, kedua kakaknya dan kedua orang tuanya hanya bisa pasrah dalam doa. Setelah usaha terbaik telah mereka upayakan. Apakah yang lebih bijak daripada ikhlas dan sabar dalam kehidupan. Dan sekali pun tak pernah terbersit di pikiran mereka untuk mengubah keputusan. 

Ya, mereka tetap pada pendirian. Mereka memilih untuk menjadi Republik Kemang. Meski nyawa taruhannya. Karena mereka lahir, hidup, besar di Republik Kemang. Atas nama pentingnya sebuah persatuan, maka pantang bagi mereka untuk membelah rasa cinta dan mengoyak sebuah negara.

baca pula:
Capung merah
Sekolah keindahan

Thanks for reading & sharing cuapguru

Previous
« Prev Post

12 komentar:

  1. Harga dari sebuah pilihan yaa...
    Tapi aku yakin, apapun pilihannya, selalu ada konsekuensi yang mengikutinya.

    ReplyDelete
  2. Republik Kemang, Amor itu nama2 negara fiktif ya? Kok saya jd keinget ceritanya ibu teman saya yang orang di area timur sana ttg hal2 semacam itu ya :(
    Trus ibu teman saya teresebut cerita bahwa yg memilih lepas kewarganegaraan itu hidupnya malah jd lbh susah :(
    Ya namanya jg pilihan ya...

    ReplyDelete
  3. Kehidupan dijaman perang memang menyusahkan, terkadang banyak generasi muda dikorbankan hanya untuk sesuatu yang katanya bela negara.

    ReplyDelete
  4. Hmmm....sepertinya ini agak-agak mirip dengan kisah yang sangat kita kenal di tanah air. Jajak pendapat yang ternyata meninggalkan banyak kisah heroik di dalamnya.

    ReplyDelete
  5. Pendirian itu penting, perih di awal, ujung pasti berakhir manis. Semangad pantang menyerah tetap harus dijaga.

    ReplyDelete
  6. terkadang memilih sebuah pilihan itu sangat sulit. apalagi kita sebelumnya sudah mempunyai pendirian. namun, anak jaman skrg sih pendirian teguh itu rasanya rada sulit untuk dilakukan

    ReplyDelete
  7. Ceritanya seru Kak, mungkin bisa lebih diperpanjang lagi dengan konflik yang lebih rapi. Nilai moral yang dibangun dalam cerita ini sangat kuat, tentang kesetiaan pada sebuah jati diri.

    ReplyDelete
  8. Seru ceritanya. mengajarkan kita untuk tetap pada pendirian. mantappp

    ReplyDelete
  9. Ada kegelisahan yang amat dalam dari cerita ini. Ini kalau ada dialognya mungkin akan lebih dramatis.

    ReplyDelete
  10. Rasa nasionalisme yang sudah bulat, sulit tergoyahkan. Bagus Mbak ceritanya. Mungkin jika ditambah sedikit dialog akan lebih menarik lagi :)

    ReplyDelete
  11. Kalo disuruh memilih akunya ngga bisa cepet. Harus mikir dengan segala macam pertimbangan dan konsekuensi. Memang berat harus memilih jati diri ya kak. Tapi segala macam keputusan akan ada konsekuensi dan pertentangan karena semua ngga sebatas baik buruk aja

    ReplyDelete
  12. Pilihan yang sulit dan setiap pilihan pasti ada konsekuensinya. Melihat mereka yang tabah menjalaninya serasa sentilan untukku yang sedikit-dikit mengeluhkan ini itu.

    ReplyDelete

IBX5AB59D2A8A617

Search This Blog

Follow by Email