Langsung ke konten utama

Memilih

Ada sebuah kisah dari perbatasan Republik Kemang- Amor Yafa. Adalah kisah terkait peralihan kewarganegaraan sebagian masyarakat Amor. Dari kewarganegaraan Republik Kemang menjadi kewarganegaraan Amor Yafa. Tercatat kisah di balik jejak pendapat yang difasilitasi pemerintah pusat daripada Republik Kemang. Tentang perjalanan hidup sebuah keluarga di tanah Amor.

Eva, memiliki dua orang kakak perempuan dan mereka tinggal bersama kedua orang tuanya. Mereka memiliki darah asli Serawai yang mengalir di sanubari mereka. Mereka tinggal di tanah Amor atas dasar program transmigrasi dari pemerintah pusat Republik Kemang.

Susah senang mereka menjalani hidup di tanah Amor. Merintis suatu perekonomian keluarga dari nol sampai memiliki berbagai jenis bentuk harta. Mereka hidup bahagia dalam damai. Ada begitu banyak perbedaan adat, budaya, dan kepercayaan. Tapi masyarakat hidup dengan persahabatan yang menentramkan.

Tapi, kisahnya bermula dari penyerangan demi penyerangan yang tiba-tiba saja sering terjadi. Sekelompok pemuda dengan pakaian seperti dari kemiliteran menembaki warga masyarakat. Ketakutan mencekam di penjuru wilayah Amor.

Setiap malam, suara tembakan terdengar seakan sudah di telinga. Tangis dan keputusasaan mulai merasuki jiwa warga masyarakat.

Eva, dua kakaknya, dan kedua orang tuanya telah mendengar pula sebuah kabar angin. Yang mengatakan perihal sebuah kewarganegaraan yang sedang diributkan banyak orang. Katanya, ada yang lelah dengan kewarganegaraan yang lama dan ingin pindah menjadi manusia yang baru.

Simsalabim entah dari mana. Padahal kehidupan selama ini serasa begitu menentramkan bagai taman hati penuh bunga. Pepohonan yang subur karena jiwa bahagia bagaimana bisa ternyata ada yang merasa bersusah payah dan lelah.

Lama hidup dalam mencekam. Akhirnya sampai utusan pemerintah memintah warga masyarakat memilih. Apakah masih ingin hidup sebagai warga Republik Kemang atau ingin memulai dengan kewarganegaraan baru atas nama mendirikan negara sendiri dan menjadi manusia baru.

Jejak pendapat diatur sedemikian rupa supaya tidak menyakiti pihak manapun. Dengan segala upaya kegotong royongan maka terkumpulah sebuah kesimpulan. Republik Kemang disobek. Separuhnya ingin memiliki rasa yang berbeda.

Eva, kedua kakaknya dan kedua orang tuanya memilih Republik Kemang. Dengan konsekuensi mereka terusir dari tanah harta mereka. Yang selama ini telah lama mereka upayakan untuk warisan anak cucu kelak. Tapi apa boleh buat. Apalah artinya harta itu dibanding sebuah jati diri yang sejati.

Memilih Republik Kemang dan kemudian terusir. Karena tanah yang diperebutkan itu telah menjadi negara baru. Maka kapal-kapal layar menjemput mereka ke tanah yang harus diupayakan dahulu dari awal lagi.

Syukurnya mereka masih memiliki bekal harta bersama mereka. Dikira cukup sebagai modal untuk memulai hidup baru. Malah kapal ternyata kemudian karam di tengah jalan. Hingga terdamparlah mereka ke tanah yang baru sebenar benar harus merintis lagi dari nol.

Eva, kedua kakaknya masih bersekolah dasar. Kedua orang tuanya cukup muda untuk memulai dari nol lagi. Dengan melupakan semua kenangan indah bersama kejayaan mereka dahulu.

Mereka kemudian menempati sebuah rumah kosong. Rumah yang besar seperti sebuah rumah orang kaya raya dulunya. Kata penduduk setempat, rumah itu angker. Pemilik rumah itu dulunya tinggal sekeluarga disana. Kemudian mati semuanya tanpa sebab yang diketahui.

Rumah itu sangat kotor tidak terawat. Mereka dengan telaten membersihkan rumah itu. Kemudian tinggal disana. Karena tidak memiliki harta samasekali mereka pun hanya mampu makan rerumputan yang ada di sekitar rumah. Mereka memakan rumput setelah mereka merebusnya di kaleng bekas yang mereka temukan.

Suatu hari, ada seorang yang memberikan uang sedikit karena tak tega melihat keadaan mereka. Uang itu kemudian digunakan sang ibu untuk membeli bahan jualan. Ibu ingin mulai berusaha menjual bubur kacang ijo.

Uang yang sedikit itu ternyata hanya mampu dibelikan dengan segenggam kacang ijo dan sedikit gula. Tapi ibu tetap mengolahnya dan terus hasil jualan diputar setiap harinya sehinggah benih harapan mulai tumbuh di hati mereka.

Mereka hidup sehari hari kemudian dengan mulai bisa mengguratkan sedikit senyuman di wajah mereka. Mereka sudah mulai bisa bercanda tawa. Mereka mulai bisa merasa bangga lagi dengan jiwa mereka. Mereka ingin lagi berjaya.

Kemudian, cermin khayalan terpecah. Terjadi lagi sebuah konflik lanjutan. Pembunuhan dan pembantaian pun tak terhindarkan. Dengan pakaian kemiliteran. Sekelompok pemuda datang menembaki warga masyarakat. Ada yang membawa golok dan menyembelih leher warga masyarakat yang bahkan tak tahu apa salah mereka hingga mereka pantas mendapat perlakuan seperti itu.

Apakah ini karena mereka berbeda dalam memilih kewarganegaraan? Apakah mereka menantang untuk merubah pilihan? Bukankah keputusan telah bulat? Apakah mereka kurang jauh dari tanah perbatasan? Tapi sudah terlalu jauh mereka memindahkan kehidupan mereka. Kenapa masih dikejar?

Eva, kedua kakaknya dan kedua orang tuanya hanya bisa pasrah dalam doa. Setelah usaha terbaik telah mereka upayakan. Apakah yang lebih bijak daripada ikhlas dan sabar dalam kehidupan. Dan sekali pun tak pernah terbersit di pikiran mereka untuk mengubah keputusan. 

Ya, mereka tetap pada pendirian. Mereka memilih untuk menjadi Republik Kemang. Meski nyawa taruhannya. Karena mereka lahir, hidup, besar di Republik Kemang. Atas nama pentingnya sebuah persatuan, maka pantang bagi mereka untuk membelah rasa cinta dan mengoyak sebuah negara.

baca pula:
Capung merah
Sekolah keindahan

Komentar

  1. Harga dari sebuah pilihan yaa...
    Tapi aku yakin, apapun pilihannya, selalu ada konsekuensi yang mengikutinya.

    BalasHapus
  2. Republik Kemang, Amor itu nama2 negara fiktif ya? Kok saya jd keinget ceritanya ibu teman saya yang orang di area timur sana ttg hal2 semacam itu ya :(
    Trus ibu teman saya teresebut cerita bahwa yg memilih lepas kewarganegaraan itu hidupnya malah jd lbh susah :(
    Ya namanya jg pilihan ya...

    BalasHapus
  3. Kehidupan dijaman perang memang menyusahkan, terkadang banyak generasi muda dikorbankan hanya untuk sesuatu yang katanya bela negara.

    BalasHapus
  4. Hmmm....sepertinya ini agak-agak mirip dengan kisah yang sangat kita kenal di tanah air. Jajak pendapat yang ternyata meninggalkan banyak kisah heroik di dalamnya.

    BalasHapus
  5. Pendirian itu penting, perih di awal, ujung pasti berakhir manis. Semangad pantang menyerah tetap harus dijaga.

    BalasHapus
  6. terkadang memilih sebuah pilihan itu sangat sulit. apalagi kita sebelumnya sudah mempunyai pendirian. namun, anak jaman skrg sih pendirian teguh itu rasanya rada sulit untuk dilakukan

    BalasHapus
  7. Ceritanya seru Kak, mungkin bisa lebih diperpanjang lagi dengan konflik yang lebih rapi. Nilai moral yang dibangun dalam cerita ini sangat kuat, tentang kesetiaan pada sebuah jati diri.

    BalasHapus
  8. Seru ceritanya. mengajarkan kita untuk tetap pada pendirian. mantappp

    BalasHapus
  9. Ada kegelisahan yang amat dalam dari cerita ini. Ini kalau ada dialognya mungkin akan lebih dramatis.

    BalasHapus
  10. Rasa nasionalisme yang sudah bulat, sulit tergoyahkan. Bagus Mbak ceritanya. Mungkin jika ditambah sedikit dialog akan lebih menarik lagi :)

    BalasHapus
  11. Kalo disuruh memilih akunya ngga bisa cepet. Harus mikir dengan segala macam pertimbangan dan konsekuensi. Memang berat harus memilih jati diri ya kak. Tapi segala macam keputusan akan ada konsekuensi dan pertentangan karena semua ngga sebatas baik buruk aja

    BalasHapus
  12. Pilihan yang sulit dan setiap pilihan pasti ada konsekuensinya. Melihat mereka yang tabah menjalaninya serasa sentilan untukku yang sedikit-dikit mengeluhkan ini itu.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pendaftaran SabangMerauke 2018

Pendaftaran program dibuka selama 2 Februari - 31 Maret 2018.
Program SabangMerauke (Seribu Anak Bangsa Merantau Untuk Kembali) adalah program pertukaran pelajar antardaerah di Indonesia yang bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai toleransi, pendidikan, dan keindonesiaan. SabangMerauke akan mengajak anak-anak terpilih dari berbagai penjuru nusantara untuk merantau selama tiga minggu di Jakarta serta beraktivitas dengan kakak dan famili yang berasal dari latar belakang yang berbeda-beda. Diharapkan, para peserta dapat meresapi nilai toleransi, pendidikan, dan keindonesiaan sehingga mampu mengamalkannya dengan menjadi duta perdamaian sekembalinya ke daerah asal masing-masing.
Peserta program terdiri dari Adik SabangMerauke (ASM), Kakak SabangMerauke (KSM), dan Famili SabangMerauke (FSM). Kurikulum program disusun untuk memperkaya pandangan dan pengalaman para ASM, KSM, dan FSM terkait keberagaman yang ada di Indonesia. Tujuannya, tak lain adalah untuk menanamkan rasa toleransi pada ses…

SM3T

SM3T singkatan dari Sarjana Mendidik di daerah terdepan, terluar, tertinggal adalah program yang digagas untuk membantu pemenuhan kekurangan tenaga pendidik di daerah tersebut. Program ini diperuntukkan bagi sarjana kependidikan yang belum lama diwisuda. Selain dari membantu pemenuhan tenaga pendidik, program ini juga bermaksud menciptakan guru generasi baru yang cerdas, mandiri, dan tangguh.
Selain dari segi pendidikan program SM3T juga merupakan program budaya. Program SM3T dimaksudkan sebagai sarana saling mengenal antar suku bangsa. Karena itulah ada sistem silang, yakni sarjana yang lulus program SM3T akan ditempatkan ke daerah sasaran SM3T yang jauh dari daerah asalnya. Yang berasal dari timur, diutus ke barat. Yang berasal dari barat diutus ke timur. Kira-kira begitulah sistemnya.
Berikut daerah sasaran SM3T tahun 2016.

Silang budaya menjadi data tarik tersendiri dari program SM3T. Di mana kebanyakan peserta tes SM3T mengaku ikut SM3T karena ingin merasakan silang budaya seperti i…

Susunan tempat duduk bentuk tapal kuda

Susunan tempat duduk peserta didik adalah salah satu bagian dari manajemen kelas. Banyak hasil penelitian yang telah membuktikan pengaruh tempat duduk terhadap prestasi peserta didik itu benar adanya. Ada berbagai cara susunan tempat duduk yang biasa digunakan di dalam kelas ketika kegiatan belajar mengajar. Dan pilihan bagaimana susunan tempat duduk tentu ditentukan oleh gurunya.
Setiap guru sudah pasti memiliki gaya tersendiri dalam mengajar. Tapi, kebanyak guru akan tetap memilih susunan tempat duduk yang sudah ada. Mungkin karena hal ini memang pilihan yang mudah. Terlebih, waktu yang tersedia kadang tidak cukup jika materi yang akan diajarkan sedang banyak.
Terkadang tak ada salahnya sesekali mengubah susunan tempat duduk peserta didik. Meski memakan beberapa waktu. Saya suka mengganti-ganti susunan tempat duduk karena mereka butuh variasi. Dan susunan tempat duduk favorit saya ada bentuk tapal kuda atau bentuk U.
Berdasarkan pengalaman saya, susunan bentuk tapal kuda ini efektif un…